Cerita Sex Suasana Romantis Tante | Hasrat Sex
Obat Pembesar Penis VIMAX

Cerita Sex Suasana Romantis Tante

Alt/Text Gambar Alt/Text Gambar

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Suasana Romantis Tante. Aku jika melihat tante yang montok selalu berkhayal dia lebih pintar dan lebih keras di atas ranjang, kadang juga aku sering onani kalau didalam kamar mandi sambil membayangkan kalau aku merasakan jepitan memek tante, oya kebanyakan di lingkunganku banyak tante genit, dan aku mendapat pengalaman yang mana aku bisa berhubungan badan dengan salah tante.

Cerita Dewasa Suasana Romantis Tante

cerita sex tante, cerita hot tante, cerita tante hot, cerita hot tante tante, kumpulan cerita tante hot, cerita x tante, cerita tante tante hot, cerita sesk tante, cerita hot tante montok, cerita hot tante muda, kumpulan cerita hot tante, cerita tante haus, cerita ml tante tante, cerita hot tante cantik

Ceritanya berawal pada saat temanku mengajak karaoke di kawasan wisata prigen dan sebelumnya aku belum pernah masuk ke kawasan semacam itu. Kami bertiga pesan ruang utama yang mempunyai pintu sendiri dan ruangan itu terpisah dengan yang lainnya selama tiga jam penuh.Kisah ini berawal dari nafsuku yang boleh dibilang ugal-ugalan.

Bagaimana tidak, disaat usiaku yang mencapai 29 tahun, sekarang ini inginnya ML (bersetubuh) terus tiap hari dengan istriku (inginnya 3 kali sehari). Dan para netters duga, pasti seorang istri tidak hanya menginginkan kepuasan seksual setiap waktu, akan tetapi juga kerja mengurus rumah lah, mengurus anak lah dan lain-lain banyaknya.

Sehingga nyaris istriku juga sering keberatan kalau tiap malam bersetubuh terus, dan aku juga kasihan padanya. Setiap kali bercinta, istriku bisa 3 kadang 4 kali orgasme dan aku sendiri kadang tidak ejakulasi sama sekali karena istriku keburu lelah duluan.

Paling setelah istriku tertidur pulas kelelahan, aku langsung pindah ke meja kerjaku dan menyalakan PC, lalu memutar Blue Film dan aku lanjutkan dengan self service. Setelah puas, aku baru menyusul istriku yang tertidur, dan jika tengah malam aku terjaga dan kudapati “pusakaku” berdiri, aku ulangi lagi hingga aku benar-benar lelah dan tertidur.

“Eh, Eko emangnya Elo udah booking cewek untuk nemenin Kita..?” tanyaku pada Eko, salah seorang dari kawanku. “Sabaarrr Boss, entar Adi juga bawain tuh cewek..” tukasnya. Sepuluh menit kemudian, saat aku akan menyulut Djarum 76-ku, merapatlah sebuah Kijang dan Civic Wonder berjejeran ke hadapanku dan Eko.

Kalau Kijang itu aku kenal, itu adalah Kijang-nya si Adi dan keluar dua orang ABG yang berdandan Ahooyy. Berdesir darah lelakiku melihat dua orang ABG itu. Bagaimana tidak, pakainnya super ketat dan sangat menonjolkan bukit-bukit indah di dada dan pantatnya.

Akan tetapi, aku tidak kenal dengan Civic itu. Aku melihat di dalamnya ada seorang cewek ABG dan seorang lagi wanita sekitar 35 tahun (menurut taksiranku dari raut wajahnya). Eko yang rupanya kenal baik dengan kedua wanita itu langsung menyambut dan membukakan pintu, lantas memperkenalkannya kepadaku.

“Melly..” seru tante itu disambut uluran tangannya padaku. “Riska..” sahut gadis manis disampingnya. Singkat cerita, kami sudah mulai bernyanyi, berjoget dan minum-minum bersama, entah sudah berapa keping VCD Blue Dangdut yang kami putar.

Aku melihat Eko dan Adi mulai mendekati sudut ruangan, dan entah sudah berapa lama ceweknya orgasme karena oral yang mereka lakukan. Sementara aku sendiri agak kaku dengan Melly dan Riska. Kami pun tetap bernyanyi-nyanyi, meskipun syairnya awur-awuran karena desakan birahi akibat pertunjukan BF di depan kami.

Aku sendiri duduk di dekat Melly, sementara Riska serius menyanyikan lagu-lagu itu. Tante Melly sendiri sudah habis satu pak A-mild-nya, sementara aku melihat wajah Riska yang merah padam dan kadang nafasnya terengah pelan karena menahan gejolak yang ia saksikan di layar 29 inch itu.

Tiba giliranku untuk mengambil mike dari Riska, aku bangkit mengambil mike itu dari tangan Riska dan mengambil duduk di antara Riska dan Melly. Pengaruh minumanku dan XTC yang mereka telan membuat kami jatuh dalam alunan suasana birahi itu.

“Boy.., I want your sperm tonight Honey…” bisik Melly lirih di telingaku, sementara tangan kirinya meraba selangkanganku. Riska yang sudah meletakkan pet aqua-nya mengambil sikap yang sama padaku. Dia malah mulai memainkan ujung lidahnya di telinga.

Hangat nafas dan harum kedua wanita itu membuatku terbuai dalam alunan melodi birahi yang sudah aku rasakan menjalar menelusuri selangkanganku. Perlahan namun pasti, kejantananku menegak dan kencang, sehingga Lee Cooper-ku rasanya tidak muat lagi, apalagi saat meneganggnya salah jalur dan sedikit melenceng.

“Lho kok.. bengkok punyamu Say..?” tanya Melly padaku pura-pura seperti seorang amatiran saja. Belum sempat aku menjawab, buru-buru Riska membuka zipper dan CD-ku, lantas mengeluarkan isinya.

“Gini lho Tan… mintanya dilurusin, Mas Boy ini..” kata Riska diikuti penundukkan kepalanya ke arah selangkanganku. “Aaakkhhh…” pekikku tertahan saat Riska spontan mulai mengulum kepala penisku ke dalam mulutnya dikombinaksikan dengan sedotan dan jilatan melingkar lidah. Spotan kedua kakiku menegang dan membuka lebih lebar lagi untuk memudahkan oral Ineke.

“Ooookh My Godd… ssshhh… aakkk…” desahku. Seluruh tubuhku bergetar dan terasa disedot seluruh sumsun tulangku lewat lubang penisku. Permainan Riska betul-betul professional, sampai-sampai dentuman musik itu sepertinya tidak kudengar lagi, karena telingaku juga berdesir kencang.

Ujung penisku betul-betul ngilu, hangat, geli dan perasaan birahi bercampur jadi satu disana. Melly lantas membuka kancing kemeja Hawai-ku dan mundaratkan mulut indahnya di puting susu kiriku, sementara puting kanan dimainkan oleh telunjuk dan jempol kirinya.

“Aaakkk… mmmhhh…” desahku tidak menentu. Aku betul-betul tidak tahan menikmati sensasi ini. “Gila.., inilah penyelewenganku yang pertama dan dimanja oleh dua orang wanita sekaligus…” bisikku dalam hati.

Aku semakin tidak tahan saja, lalu kurengkuh leher Melly dan kudekatkan bibirku, kujulurkan lidahku menyapu seluruh rongga mulutnya dan sesekali kuhisap dalam-dalam bibir bawahnya yang sangaat menawan itu. Ini karena jujur saja, aku lebih bergairah dengan Tante Melly, meskipun sudah hampir mencapai kepala 4 itu (dalam perbincangan kami, akhirnya aku tahu juga umur Melly, meskipun tidak pasti segitu bahkan bisa lebih).

Badanku lantas kumiringkan dan bersandar pada sofa. Bukit indah Tante Melly adalah tujuanku dan benar saja, berapa saat kemudian, “Oookkkhhh… Nimaaatthh… Sayyy… seddooottthhh… terrruuusshhh…” desah Melly terengah-engah.

Sedotanku kukombinasikan dengan pelintiran jempol dan telunjuk kiriku, sesekali kuputar-putar putingnya dengan telapak tanganku. “Ssshhh… terussshhh… Sayyy…” Melly mendesis seperti ular. Tiba-tiba,

“Teeettt..,” suara bel mengejutkan kami, pertanda sepuluh menit lagi akan berakhir. Aku melihat Adi dan Eko tersandar kelelahan, dan kulihat ada sisa sperma menentes dari ujung penis-nya yang mulai mengkerut.

“Udahan dulu ya Tante.., In..,” pintaku pada mereka. “Emmhhh… Oke…” jawab mereka dengan nada sedikit keberatan. Kami pun turun, aku berpisah dengan Adi dan Eko, entah kemana mereka melanjutkan petualangan birahinya.

Dan kami pun sudah masuk ke Civic Melly. “Kemana Kita nich..?” tanyaku sok bloon seraya menghidupkan mesin. “Kita lanjutin di hotel yuk Ke..!” ajak Tanta Melly kepada Riska. “Baik Tan… Kita ke hotel **** (edited) yang punya whirpool di kamarnya.” sahut Riska.

Rupanya Tante Melly adalah seorang eksekutif, karena itu ia pesan salah satu President Suit Room yang mana seumur-umur aku baru mesuk ke dalamnya. Kamarnya luas, kurang lebih 6 x 8 meter, beralaskan permadani coklat muda kembang-kembang dan dilengkapi whirpool yang menghadap ke arah kehijauan lembah.

Kamar itu juga mempunyai sofa panjang di sebelah whirpool. Begitu masuk, Tante Melly lalu mengunci pintu, aku dan Riska mengambil tempat duduk di sofa sebelah whirpool. Aku melingkarkan lenganku ke pundak Riska, alunan musik malam pun semakin menambah romantis suasana.

“Innn…” bisikku mesra kepada Riska mengawali percumbuanku. Riska yang sudah on berat itu langsung menyambut kecupanku, nafasnya terengah-engah, menandakan bahwa dia sangat menginginkan kehangatan, kenikmatan dan mengisi kekosongan ruang vaginanya yang terasa menggelitik dan lembab.

Dengan sedikit tergesa, aku melepas CD-nya, lalu kurebahkan kepalanya di sandaran sisi sofa dan keletakkan pinggulnya tepat diselangkanganku. “Sreett…” penisku mulai bereaksi saat pantatnya yang dingin menyentuh Lee Cooper-ku dan kulihat Riska terpejam, sementara tangannya membetulkan rambutnya yang tergerai di sofa.

Aku mulai memainkan jari telunjukku di bibir luar vaginanya yang sudah mulai melelehkan cairan bening dari hulunya. Tidak ketinggalan, bibirku menghisap dalam-dalam dan sesekali kujepit putingnya dengan kedua bibirku lalu kutarik-tarik, sesekali kupilin-pilin dengan kedua bibirku.

“Wuuuaahhh… ssshhh… terussshhh… nikkkmatthhh…” desah Riska keras-keras saat kuperlakukan seperti itu. Tubuhnya kejang panas dan seluruh aliran darahnya kini memuncak. Sengaja aku tidak memasukkan telunjukku, karena untuk menstimulasi lebih intens lagi.

Kami bercumbu dan sudah tidak ingat lagi apa yang dilakukan Melly di kamar mandi yang begitu lama. “Bentar Inn.., Aku pispot dulu yach..?” kataku sambil melepaskan cumbuanku. “Emmhhh…” desah Riska sedikit kesal.

Akan tetapi, aku melihat Riska melanjutkan birahinya dengan dua jari. Aku sendiri berlari kecil menuju ke kamar kecil dan sesampai di pintu, aku kaget karena mendapati Tante Melly lagi meregang orgasmenya.

“Aaakkkhhh… ssshhh… ssshhh…” desah Tante Melly, matanya mendelik merem melek. Tampaknya vibrator mutiara itu masih bekerja, sehingga saat aku kencing, Melly pun tidak melihatku.

“Boyyy…” sebuah panggilan lembut mengagetkan aku saat hendak meninggalkan kamar mandi itu. “I… iii.. yaaa… Tan..?” sahutku agak kaget. “Sini dooonggg..! Hangatin vagina Melly dengan penis Kamu yang.., ookkhhh…” Tante Melly terpekik saat vibrator itu ia cabut dari liang vaginanya.

Aku hampiri Tante Melly di Bath tub itu dan aku baringkan tubuhku disana.

“Oh.., nikmat sekali mandi air hangat dikelonin tante seksi ini.” bisikku dalam hati. Aku rengkuh lehernya dan kuberikan french kiss yang begitu mesra dan Tante Melly pun membalas dengan ganas seluruh rongga mulutku, leher dan kadang puting susuku di hisapnya.

Penisku yang terendam kehangatan air itu semakin maksimal saja. Selama tiga menit kami bercumbu, Tante Melly nampaknya tidak dapat mengendalikan nafsunya.

“Mmmppphhh… oookkkhhh… setubuhi aku Boy..! Cepeeetthh..!” pinta Tante melly sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.

“Baik.. Lisss… Terima penisku yang panjaaanggg…” bisikku sambil memasukkan seluruh batang penisku pelan sekali.

“Oohhh… mmmppphhh… nikmatthh…” gumannya saat batang kejantananku mili per mili mulai menjejali rongga rahimnya.

“Kocokkhh.. yaacchhh… terussshhh… aaakhh… nimat bangeettthh..!” serunya ketika aku mulai mengosok-gosok pelan penisku. Aku keluarkan kira-kira empat senti, lalu kukocok lima atau enam kali dengan cepat dan kusodokkan dalam-dalam pada kocokan ke tujuh. Rupanya usahaku tidak sia-sia untuk menstimulasi G-spot-nya.

“Aaakkkhhh… ooohhh… nimatthhnyaa… oookkkhhh Godd..!” teriaknya mengawali detik-detik orgasmenya. Sepuluh detik kemudian,

“Nnggghhh… aaakkkhhh… sshhhfff… ookkkhhh… Boyy… kocokk… lebih intens lagi Yannk..!” jerit Tante Melly diiringi geliat liar tubuh indahnya. Payudaranya diremas-remasnya sendiri, sementara aku tetap berpegangan pada sisi bathtub sambil mengocok lembut vaginanya.

“Akkhh…” teriakku pelan saat Tante Melly menggigit pundakku karena aku masih saja mengocok penisku di vaginanya. Rupanya Melly sudah mulai ngilu. Aku memeras tegang otot lenganku dan Tante Melly sepertinya minta time out untuk mengatur nafas dan menghilangkan kengiluan di liang sengamanya.

Aku meraih lehernya, lalu aku berdiri pada dua lututku dan Tante Melly diam mengikuti apa yang akan kulakukan. Aku memondong Melly dan tetap menjaga penisku tertanam dalam-dalam di vagina Tante Melly yang mengapit kedua tungakainya ke pinggangku.

Kami menghampiri Riska yang juga lagi meregang orgasmenya dan Riska tampaknya lebih liar dari pada Melly, mungkin karena pengaruh XTC dan suasana yang penuh hawa birahi itu.

“Aaaoookkkhhh… ssshhh… aaakkkhhh… aaakkkhhh…” jerit Riska keras sambil menghujam-hujamkan kedua jari kanannya. Sementara tangan kirinya meremas dan memilin payudaranya dan sesekali ditekan serta diputar.

Aku terkesima sejenak dengan pemandangan yang diciptakan Riska itu dan aku mebayangkan akan lebih histeris lagi pasti jika yang keluar masuk itu adalah 15 cm penis kebanggaanku.

“Booyy… ayyyoook terusinn..!” pinta Tante Melly diiringi goyangan lembut pinggulnya. Ia tampaknya mulai bergairah kembali setelah melihat Riska yang begitu histeris dan aku pun demikian ketika penisku hampir mengendor di Vagina Melly.

Aku maju selangkah dan mendudukkan Tante Melly dari arah belakang sofa. Aku sendiri mengambil posisi berdiri untuk memudahkan eksplorasiku. Di lain pihak, Riska yang sudah mengakhiri masturbasinya itu mengetahui kehadirna kami dan mengambil tempat di belakang Tante Melly.

“Ookkhhh… Terusin Keee..!” pinta Tante Melly saat Riska menyibakkan rambutnya dan mulai mencumbui leher Tante Melly. Tidak ketinggalan, kedua telapak tangan Riska menggoyang, memutar puting dan kadang-kadang dipilin lembut.

Aku sepertinya merasakan apa yang Tante Melly rasakan, darahnya mulai hangat, birahinya sudah memanas. Tubuh melly bagaikan daging burger di antara aku dan Riska, pinggulnya masih aktif menggoyang-goyang, kadang menghentak-hentak lembut.

“Oooaaakkkhhh… nngghhh… ohhhh… nngghhh… Kocok terushh… yaaa… iyaa… terusss..!” desah Tante Melly keras saat aku tepat menstimulasi G-Spot-nya. Nafasnya tersengal-sengal disela-sela lenguhan-lenguhan panjangnya, tubuh Tante Melly menggeliat-geliat liar. Riska masih aktif membantu Tante Melly menggapai surgawinya, kecupan-kecupan di belakang tubuh, leher, pinggang dan tiba-tiba Tante Melly melenguh panjang diiringi percepatan hentakan pinggulnya.

Aku semakin penasaran saja apakah yang dilakukan Riska hingga Tante Melly tampak lebih histeris lagi dari yang tadi. Kuraba raba punggung Melly sambil kukulum mesra bibirnya, tanganku mulai turun ke arah pantatnya, kutekan kedua sisi bokongnya yang padat itu dan kuulir-ulir.

Berawal dari situlah aku tahu rupanya telunjuk dan bibir Riska memainkan peran di lubang anus Tante Melly, telunjuknya yang berlumur vaselin itu keluar masuk lembut di vagina Tante Melly.

“Oookkhhghh… Goddhh… Ke… truuusss… Yanng… oookkhhh, kontholll… akkhhh… sshhh…” ceracau Tante Melly tidak beraturan, menjemput ambang orgasmenya. Kedua lubang Tante Melly terasa pejal dan hangat. Aku malah semakin terangsang oleh imajinasiku sendiri, aku lantas memeluk erat-erat Tante Melly saat ia mulai mengencangkan lingkaran tangannya di tubuhku.

Darahku juga mulai bergerak cepat menuju ke ujung syaraf di kepalaku, kupingku tidak lagi menghiraukan lenguhan dan desahan-desahan Tante Melly.

“Oookkkhhh… Lissshhh… nikmathhh… vaginamu… Akkhhh..!” desahku saat birahiku kurasakan menjalar di seluruh tubuhku.

“Booyyy… Akuuu… mmmhhh… mauuu…” seru Tante Melly menyambut orgasmenya. Tubuhnya menegang, wajahnya merah merona, menambah cantiknya Tante kesepian ini, sementara bibirnya terkatup rapat.

“Sssebentar… Lissss… Kita keluar bareng…” bisikku yang kuiringi tempo kocokanku secara maksimal, yaitu kukeluarkan hampir sepanjang batangnya dan kubenamkan dalam-dalam di rahimnya. Rupanya darahku tidak bertahan lama di syaraf-syarafku, hingga berdesir kencang meluncur melalui seluruh nadiku dan bermuara pada sebuah daging pejal di selangkanganku.

“Lisss… Aku nyammmppaaiii… uuaaakkkhhh… aaakkhhh.., aakhhh..,” desahku sambi memutar-mutar penisku yang tertanam maksimal di vagina Tante Melly, sehingga rambut-rambutku yang disana juga menggelitik klitoris Tante Melly.

“Sseerrr… serrr…” kurasakan cairan Tante Melly mendahului orgasmeku, dan seditik kemudian, aku dan Melly meregang nikmat. Kami menjerit-jerit sensasional dan tidak khawatir orang lain mendengarnya. Tante Melly histeris seperti orang kesetanan ketika telunjuk Riska juga mempercepat kocokan di anusnya.

“Aaakkkhhhggh…” desah kami bersamaan mengakhiri nikmat yang tiada tara tadi dan juga baru kurasakan seumur hidupku. Maniku meleleh di sela-sela pejalnya bnatang kejantananku yang masih manancap dalam di rahim Tante Melly.

Riska tampaknya puas dengan hasil kerjanya, lalu ia memeluk Tante Melly erat dan berbisik, “Enak khan Tannn..?” Tante Melly sendiri sudah lemas dan terkulai di atara aku dan Riska, aku mengecup mesra Tante Melly dan beralih kepada Riska untuk memberikan stimulan birahi dalam dirinya yang juga mulai mendidih. Kedua wanita itu memang hebat, yang tua histeris dan mampu menguasai diri dan yang muda histeris juga dan menuruti jiwa mudanya yang bergejolak.

Tante Melly tampaknya tidak dapat menahan rasa di tubuhnya, sehingga lunglai lemas tidak bertenaga. Riska lantas membimbingnya melepas gigitan vaginanya dari penisku yang mulai mengendor ke arah ujung sofa untuk beristirahat.

Kulihat wajah Tante Melly amat puas bercampur dengan letih, akan tetapi semua beban birahinya yang tertahan selama dua minggu meledak lah sudah. “Ooookkkhh… sssshh…” desis Tante Melly saat penisku kutarik pelan dari gigitan vaginanya.

Aku melangkahi sofa dan duduk di sandarannya, lalu kubuka kedua pahaku. Tampaklah oleh Riska sebuah meriam yang berlumur sperma masih setengah tegak.

“Oookkkhhh… gellliii… ssshhh… terusssss… Keee..!” pintaku pada Riska saat ia mulai mengulum penisku dan hampir semuanya terkulum di mulutnya yang sedikit lebar namun seksi. “Oaaakhhh…. aaakkkhh… sshhhssshshh…” desisku saat aku mulai merasakan lagi denyutan penisku di mulutnya.

Riska masih menghisap habis seluruh sperma yang tersisa dan kocokkannya semakin cepat, hingga kedua kakiku bergetar menahan ngilu bercampur nikmat.

“Oookkkhhh… terusss… hisappphh Sayy..!” pintaku sambil mendorong kepala Riska untuk melakukan lebih dalam lagi.

“Oooouakghh.. Plop…” tiba-tiba mulut Riska melepas kulumannya dan langsung berdiri menjilat leher dan kedua telingaku bergantian.

“Aku ingin di whirpool Sayy..!” bisik Riska. Whirpool itu sendiri sudah dilengkapi semacam sofa untuk berbaring, sehingga jika berbaring di situ, maka mulai dada sampai kaki akan terendam air hangat bercampur semburan air di sisi-sisi kolamnya.

Aku merebahkan Riska disana dan memulai percumbuan kami, tubuh kami terasa hangat dan seperti di pijat-pijat, sehingga penisku yang sempat layu mulai menegang kembali. Riska tampak menikmati sensasi ini dan aku tahu bahwa Riska akan menginginkan melodi yang berbeda dengan Melly.

“Masss… sshh… oookkkkhh… masukin Aku… oookkhhh… mmmppphh…” pinta Riska sambil membuka pahanya lebar-lebar. Sejenak aku memainkan kehangatan air, kuayun-ayun tanganku di dalam air ke arah vagina Riska yang membuatnya segera menarik tubuhku untuk menaikinya.

Kami memang sudah diselimuti nafsu sehingga rasanya pemanasan Riska melihat orgasme dari Tante Melly sudah lebih dari cukup. Tubuh kami hangat oleh air dan kehangatan dari pasangan kami serta semburan-semburan air dari sela-sela kolam membuat kami semakin terbuai jauh ke awang-awang.

“Blesss…” 10 cm dari penisku mulai menjejali vagina Ineke diiringi desahan, “Aaakkkkhhh… mmmppph…” guman Riska yang membuat Tante Melly tersadar dan menyusul kami di kolam.

Kuhentakkan pelan, sehingga seluruh penisku mendesak dinding-dinding vaginanya yang terasa lebih perat dan berdenyut. Melly mengambil posisi memangku kepala Riska di paha kanannya dan membelai lembut kening Riska.

“Aaawww… oookkkhhh… gelli… Masssh…” teriak Riska saat aku memainkan otot lelakiku di leher rahimnya. “Masss… dikocok pelaannn… yacch..!” pintanya sambil membelai rambutku, membuatku jadi teringat saat-saat romantis dengan pacar-pacarku dulu.

Aku mengangguk dan kuikuti apa yang Riska mau, lalu kukocok perlahan dengan cara sepuluh senti aku kocok lima atau enam kali dan kubenamkan dalam-dalam, lalu kuputar pada kocokan ke-7. Cara ini efektif untuk menstimulasi G-Spot seorang wanita. Kurang lebih lima menit kemudian, Riska mengangkat kepalanya dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di mulut dan leherku bergantian.

Tubuhnya sedikit menegang dan lebih hangat kurasa, lalu aku memberi isyarat Tante Melly untuk menyingkir ke arah bagian belakang kami.

“Ooookhhh… Massshh.. aaakuuu… hammmppirr..!” bisik Riska saat aku mulai menaikkan ritme kocokanku. “Tahan Ke..!” pintaku, lalu aku memberi isyarat kepada Tante Melly lagi.

“Akkkhhhgghhh… ssshhh… mmmpppphh…” desahku dan Riska bersamaan saat telunjuk Tante Melly mulai memasuki lubang pantatku dan anusnya Riska. Rasanya hangat mengelitik, apalagi jika di kocokkan di kedalaman anusku dan aku bisa membayangkan sensasi yang dialami Riska.

Pasti akan terasa pejal dan nikmat serta sensasional pada kedua lubangnya. “Oookkkhhh… Taaan… aaaakk.. kuuu tak kuuu..atthh…” teriak Riska mulai mengawali detik-detik orgasmenya. Para netters yang budiman, sudah bisa diduga, kami pun terbuai dengan alunan sensai jari Tante Melly dan hisapan vagina Riska bersamaan.

Demikian pula Riska. Panasnya penisku dan gelitik telunjuk Tante Melly membuatnya lupa daratan. “Aaaggghhh… oookkkhhh… oookkkhhh… aaakkkhhhg… mmmm.. ssshshhh.. awww… ssshhh…” ceracauku dan Riska tidak beraturan.

Dan kurang lebih sepuluh detik kemudian, aku dan Riska meregang birahi yang dikenal dengan nama orgasmus secara bersamaan. Aku memancarkan spermaku. Terasa lebih banyak dari pada dengan Tante Melly dan aku juga merasakan aliran mani Riska dari rahimnya.

Aku menghempaskan tubuhku ke samping Riska dan Tante Melly mengambil tempat di sisi lainnya. Hangat tubuh mereka dan kami becumbu seolah tiada hari esok. Kami lanjutkan tidur mesra diapit dua tubuh sintal nan hangat berselimutkan sutra lembut.

Dan saat salah satu dari kami terjaga, kami mengulanginya lagi hingga spermaku betul-betul terasa kering. Minggu siang, kami baru terbangun, lantas kami mandi bersama dan kemudian sarapan pagi. Kami meluncur ke Surabaya dan janji akan kencan lagi entah dengan Tante Melly ataupun Riska atau kadang mereka minta barengan lagi.

Aku akhirnya terlibat kisah asmara yang penuh birahi, namun aku puas karena dapat melampiaskan nafsuku yang meletup-letup itu. Beberapa kali aku ditawari dan berkencan dengan teman Tante Melly dan kadang ada yang aku tolak, karena prinsipku bukan jual cinta seperti gigolo, akan tetapi sebuah prinsip petualangan.

Ok..! Bagi para netters yang mau kirim komentar atau saran, aku akan membalasnya dengan senang hati.

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil