Cerita Sex Tetangga Suka Ngentot | Hasrat Sex
Obat Pembesar Penis VIMAX

Cerita Sex Tetangga Suka Ngentot

Alt/Text Gambar Alt/Text Gambar

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Tetangga Suka Ngentot. Kisah sex kali ini masih menceritakan kisah Wiwik dan suaminya yang gila sex dan kali ini ingin merasakan threesome , suatu permintaan dari suaminya wiwik untuk berhubungan anal dengannya sambil ditemani istrinya Wiwik.

Cerita Dewasa Tetangga Suka Ngentot

cerita sex three some, cerita gangbang hot, cerita bokep terlengkap, cerita cerita sange, cerita ngentub, cerita baru panas, cerita 3 some, cerita thresome, cerita tresome

Helga memohon takkan berciuman denganku, hanya ingin menikmati penisku di analnya, agar ia bisa juga merasakan kenikmatan seperti yang kuberikan kepada istrinya. Kami melakukan hal itu dengan posisi Wiwik berbaring di bawah suaminya sambil menciumi bibir dan dada suaminya, sedangkan suaminya menungging di depanku dan kutancapkan penisku yang sebetulnya lebih kecil dari penis suaminya, ke dalam anal suaminya.

Aku masih menancapkan penisku ke dalam anal suaminya, ketika suaminya meminta Wiwik memasukkan penisnya ke dalam vagina Wiwik. Dengan Wiwik berbaring terlentang di bawah sekali, ditindih oleh suaminya dari atas dan memasuki vaginanya dengan penisnya, aku di atas tubuh suaminya menancapkan penisku ke dalam analnya, kenikmatan luar biasa kembali kami nikmati bertiga.

Beberapa kali suaminya memintaku untuk mau melakukan hal seperti itu lagi, tetapi aku menolak. Aku hanya sekali itu melakukan, takut jika ketagihan dan malah jadi homo betulan. Suatu sore, Wiwik meneleponku meminta datang ke rumah mereka, sebab ada Henny, teman kuliahnya dulu di Australia.

Aku ke sana dengan pakaian santai, hanya mengenakan kaus ringkas dan celana panjang. Aku dikenalkan dengan Henny, perempuan Sunda. Lebih pendek daripada Wiwik, tapi orangnya manis. Kulitnya putih, bersih, hidungnya agak mancung, rambutnya panjang sebahu, lebih panjang daripada Wiwik yang potongan rambutnya pendek.

Kami makan malam berempat dengan diterangi cahaya lilin. “Agar romantis,” kata Wiwik. “Ini untuk merayakan ulang tahun perkawinanku dengan Helga,” tambahnya. Usai makan malam, kami duduk di teras belakang rumah Wiwik dan Helga.

Ada taman kecil di situ. Cahaya lampu taman yang redup memberikan nuansa romantis. Kami duduk sambil menikmati white wine, kesukaan Henny, “Untuk menghormati sahabat lama,” kata Wiwik sambil menuangkan white wine ke gelas kami masing-masing. Kami minum setelah bersulang.

Helga dan Wiwik saling memberi selamat sambil berpagutan bibir disaksikan olehku dan Henny. Lama mereka berciuman barulah Henny memberi selamat kepada mereka. Henny menyalam Helga dan menyalami Wiwik.

Waktu mereka bersalaman dan berciuman, aku sempat terkejut sebab ternyata mereka tidak berciuman pipi, melainkan berciuman bibir. Kupikir Helga tidak melihat hal itu, tetapi ia justru tersenyum menyaksikan mereka dan menatapku seolah-olah berkata tidak ada masalah dengan itu.

Aku menyalami Helga dan Wiwik. Waktu menyalam Wiwik, ia tidak mau hanya kusalam, ditariknya tubuhku rapat-rapat ke tubuhnya dan mencium bibirku,

“Cium dong, koq malu-malu gitu sih, Gus?” Kurasakan wajahku memerah diperlakukan begitu di depan Henny.

“Nggak apa-apa koq, Henny bukan orang lain,” jelas Wiwik. Kembali kami berempat duduk sambil bercakap-cakap. Mula-mula tentang hal-hal yang dialami Wiwik dan Henny waktu sekolah di Australia. Kemudian merembet ke masalah perkawinan.

Henny bercerita bahwa suaminya seorang pengusaha setengah baya, yang sudah menikah dan menjadikan dirinya istri muda. Ia mengaku terjebak oleh ulah si pengusaha, tetapi demi kebutuhan ekonomi keluarga dan menyekolahkan adik-adiknya, ia terpaksa melakukan itu. Ia justru bersyukur tidak hamil hingga kini.

“Aku pernah minta cerai, tapi suamiku tidak mengijinkan,” katanya iba. “Tapi aku juga mikir, kalau menjanda, apa ada jejaka yang masih mau padaku?” katanya lagi. Aku menatap jauh ke depan. Macam-macam saja kehidupan manusia ini, pikirku.

Ada yang sudah nikah, tidak bisa hamil oleh suaminya lalu aku yang jadi semacam pejantannya. Ini ada lagi yang jadi istri muda, mau cerai tapi tidak bisa dan hanya bermimpi bisa punya suami baik kelak. “Gus, jangan ngelamun gitu dong!” kata Wiwik sambil mencubit tanganku.

“Tuh, Henny nanya kamu!” Aku gelagapan, “Eh, maaf, nanya apa tadi Wiek?” “Waduh, payah deh ada orang bisa ngelamun di keramaian,” goda Henny, kemudian sambungnya,

“Tadi aku nanya kamu, koq belum kawin juga?”

“Dia mach sudah sering kawin, nikah yang belum,” sambut Wiwik menambah risih perasaanku. “Ya deh, aku ngerti koq,” kata Henny, “Banyak lelaki suka mikir-mikir cari jodoh, apalagi jika ketemu wanita sepertiku, takut terjerat ntar,” katanya seakan menyesali nasib.

“Jangan bicara gitu Wiek. Masih ada laki-laki yang baik. Kalau suatu ketika kamu dapat lepas dari suamimu sekarang dan dipertemukan dengan pria demikian, pasti kamu bahagia,” kataku menghibur, walaupun tidak tahu arah kata-kataku.

“Daripada ngobrol tak tentu, kita ke dalam aja yuk!” ajak Wiwik. Kami masuk dan duduk di karpet sambil main kartu. Mula-mula hanya iseng, tetapi kemudian Wiwik mempunyai ide aneh, siapa yang kalah wajib membuka bajunya sedikit demi sedikit.

Aku kaget dengan ide gilanya, tetapi suaminya dan Henny malah sebaliknya, mereka menyambut gembira usul tersebut. Aku tak bisa berkutik, sebab kartu sudah dibagi. Pertama-tama Wiwik kalah. Ia membuka baju bagian atasnya hingga kelihatan BH-nya yang berwarna merah marun. Pada permainan berikut, suaminya Helga kalah hingga membuka kausnya.

Selanjutnya aku yang kalah dan membuka kausku. Henny masih beruntung belum kalah. Kali berikut Helga kalah lagi dan membuka celana panjangnya. Ia kini bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek. Berikutnya ia kalah lagi dan membuka celana pendeknya hingga hanya bercelana dalam.

Setelah itu barulah Henny kalah dan membuka gaunnya sebab ia mengenakan pakaian terusan. Aku melihat sekilas ke arah tubuhnya. Ia masih mengenakan pakaian dalam menutupi kutang dan celana dalamnya yang terlihat membayang di baliknya.

Berikutnya Wiwik kalah lagi dan membuka roknya. Ia kini hanya mengenakan BH dan celana dalam berwarna merah marun. Kali berikut Henny kembali kalah dan terpaksa membuka pakaian dalamnya yang berwarna kuning gading.

Sekarang Helga yang hanya bercelana dalam ditemani dua perempuan yang sama-sama hanya berkutang dan bercelana dalam, sedangkan aku masih mengenakan celana panjang. Kali berikut Wiwik kalah lagi dan melepaskan tali BH-nya, terlihatlah payudaranya yang indah, “Wuihh, payudaramu masih cantik seperti dulu, An,” puji Henny sambil mengelus lembut payudara Wiwik.

Wiwik hanya tersenyum mendapat pujian dan perlakuan begitu dari temannya. Kulirik Helga, ia hanya menatap ke kartu yang dipegangnya sambil senyum-senyum. Aku tidak beruntung, sehingga kalah dan terpaksa membuka celanaku. Kini aku hanya bercelana dalam.

Wiwik menatapku sambil tertawa-tawa, “Hitam nich yee!” godanya sambil menyebut warna celana dalamku. Kali berikut Helga kalah dan terpaksa membuka celana dalam putihnya. Ia duduk bertelanjang, tetapi tak risih ada Henny. Aku heran juga, sebab kalau kami bertiga, sudah biasa kami main bertiga, tentu tak malu lagi, tetapi kini ada Henny, koq ia tidak malu.

Belakangan aku tahu bahwa Henny sudah sering menginap di rumah mereka dan tidur bertiga. Dari cerita Wiwik beberapa hari kemudian, kuketahui bahwa baik Wiwik maupun Henny adalah biseks. Memang mereka bulan lesbian murni, tetap menghendaki lelaki dalam hidup mereka, tetapi tak mampu melupakan teman intimnya dulu. Rupanya waktu di Australia mereka tinggal bersama di apartemen.

Giliran berikut Henny kalah dan membuka celana dalamnya. Ia duduk dengan hanya mengenakan BH kuning gading, sedangkan celana dalamnya dilemparkan begitu saja entah kemana. “Lho, koq itu dulu yang dibuka?” tanya Wiwik. “Biarin.

Ntar kamu balas dendam megangin susuku,” katanya sambil membagi kartu. Helga dan Wiwik tertawa mendengar jawaban Henny, aku hanya tersenyum sambil sesekali melirik ke arah paha Henny yang putih bersih, agaknya bulu kemaluannya dicukur bersih. Penasaran juga ingin tahu bagaimana bentuknya, apakah seindah vagina Wiwik, tapi walaupun penisku makin tegang melihat payudara Wiwik dan paha Henny, aku tak berani berharap macam-macam.

“Jangan bermimpi, ini kan hanya sebatas permainan kartu,” pikirku. Aku tidak tahu bahwa diam-diam permainan ini sudah dirancang mereka bertiga secara cerdik untuk mengajakku masuk dalam permainan erotis berempat. Kami kembali main kartu.

Di akhir permainan, Henny kembali kalah dan terpaksa membuka kutangnya. “Horeee, kelihatan deh harta karunnya!” sorak Wiwik seperti anak-anak mendapatkan hadiah dan mencubit puting payudara Henny.

“Nah, betul kataku, kan? Kamu emang usil deh, suka balas dendam,” kata Henny menjauhkan tubuhnya dari gangguan temannya. Henny membagi kartu. Kulirik ke arah tubuhnya. Payudaranya lebih besar kurasa daripada Wiwik, kutaksir ukurannya 34 C, bentuknya masih seperti payudara gadis, dengan putting yang agak kehitaman, beda dengan Wiwik yang putingnya lebih coklat.

Kuamati lagi sekilas sekujur tubuh Henny, seakan memberi penilaian. Henny menatapku sambil tersenyum penuh arti. Entah disengaja atau tidak ia memperbaiki letak duduknya, dan kini duduk bersila hingga sekilas nampak belahan vaginanya mengintip memperlihatkan labianya. Penisku semakin tegang, sedangkan penis Helga kulihat sudah sejak tadi tegang tanpa dapat dicegah.

Di akhir permainan, Wiwik kalah dan harus membuka celana dalamnya. Kini mereka bertiga benar-benar telanjang bulat, tinggal aku yang masih mengenakan celana dalam. “Wah, jagoan kita ini hebat benar, masih menguasai permainan dan jadi pemenang,” kata Henny memuji sambil melirik ke arah celana dalamku.

Pada permainan ini, kembali Henny kalah, hingga Wiwik berteriak, “Wah, kamu tidak punya apa-apa lagi yang bisa dibuka. Kita apain Henny, hai kaum Adam?” Helga memberi usul, “Kalau gitu, ia harus mencium orang yang ia inginkan sebagai hukuman.”

“Baiklah, para juri sekalian, aku siap menjalani hukuman paduka,” Henny bangkit dari duduknya dan berdiri. Tiba-tiba kedua tangannya memegang pipiku dan memagut bibirku tanpa kuduga. Aku megap-megap diserang tiba-tiba. Apalagi ciumannya begitu lama dan lidahnya masuk ke dalam rongga mulutku menggelitik langit-langit mulutku. Darahku semakin terpompa ke ubun-ubun mendapat ciuman demikian. Kubalas ciumannya dan lidah kami berpilinan.

“Udah, udah, jangan lama-lama, ntar ada yang cemburu tuh!” kata Wiwik sambil menarik tubuh Henny duduk kembali ke tempatnya. Henny membagi kartu lagi. Kali ini Wiwik yang kalah. Seperti yang terjadi pada Henny, ia diminta mencium orang yang ia sukai.

Tadinya kupikir ia akan mencium Helga atau aku, ternyata dugaanku meleset. Ia bangkit dan mencium bibir Henny sambil meremas-remas payudara Henny. Henny membalas ciuman Wiwik sambil tangannya bermain di sela-sela paha Wiwik.

Desahan mereka berdua terdengar di sela-sela ciuman terlarang yang mereka lakukan. Helga dan aku hanya dapat menonton perbuatan mereka. Beberapa saat kemudian mereka kembali duduk dan Wiwik membagi kartu.

Giliran berikutnya suaminya Helga kalah. Helga memilih Wiwik untuk dicium dan meremas payudara Wiwik, tapi herannya tangannya bermain di kedua payudara Henny. Henny hanya tersenyum menatapku yang keheranan, bahkan tangan kirinya meraba-raba punggung dan pantat Helga sedangkan tangan kanannya mengikuti tangan Helga meremas payudara Wiwik. Setelah itu, mereka bertiga kembali duduk dan Helga membagi kartu.

Kali ini aku yang apes, hingga harus mengikuti mereka bertiga, bertelanjang bulat! Wajahku agak memerah waktu kulepaskan celana dalam hitamku. “Wow, indah nian. Benda apakah gerangan itu?” Wiwik berkomentar, diikuti oleh Henny, “Ah, betapa beruntungnya wanita yang berkesempatan berkenalan dengan benda itu?”

Aku hanya tersipu-sipu digoda kedua perempuan itu dan membagi kartu dengan tangan agak gemetar. Rupaya Henny memperhatikan tanganku, ia pegangi tanganku sambil mengelus lembut punggung tanganku.

”Tenang aja Gus! Kamu ada di tengah para sahabat koq.” Kali berikut Wiwik kalah lagi. Kini ia memilih aku untuk dicium. Namun entah meniru suaminya, sambil menciumi aku, tangannya bermain di payudara Henny, meremas dan memainkan putingnya. Henny mendesah mendapat serangan Wiwik. Helga mengelus-elus punggung Wiwik sambil ikutan meremas payudara Henny. Aku melepaskan diri dari ciuman Wiwik.

Wiwik kembali duduk diikuti oleh Helga dan Henny. Permainan berikut Helga kalah lagi dan kini ia memilih Henny untuk dicium, tetapi sebelah tangannya menarik tangan istrinya ikut mengambil peran mengeroyok Henny. Henny membalas ciuman Helga diikuti oleh ciuman Wiwik. Ketiganya terlibat dalam ciuman panas bertiga. Kulihat bagaimana lidah mereka saling bertemu dan melumat.

Kali berikut Henny kalah, tapi sebelum ia memilih orang yang disukainya untuk dicium, Wiwik berkata, “Sekarang yang kalah harus mau diperlakukan apa saja, ok tuan-tuan?” “Ya, ya, betul,” kata suaminya, sambil bertanya padaku,

“Gimana Gus, setuju?” “Aku ngikut aja dech,” kataku sambil berharap akan sesuatu yang lebih erotis. Henny kelihatan merengut, tapi tidak membantah. “Ok silakan, aku mau diapain nich?” katanya pasrah. Wiwik menarik kedua tangan Henny dan membaringkan tubuh Henny di karpet. Lalu ia mencium bibir Henny sambil meminta suaminya mengerjai bagian bawah tubuh Henny dengan isyarat tangan.

Suaminya memegangi kedua belah paha Henny dan membukanya lebar-lebar, lalu mencium vagina Henny yang bersih tanpa rambut. Henny mengerang diperlakukan begitu oleh suami istri tersebut. Aku hanya memandangi mereka. Tak lama kemudian kudengar Wiwik berkata, “Gus, kamu tidak ingin ikut menjatuhkan hukuman pada penjahat ini?” Aku diam saja sambil menggelengkan kepala.

Wiwik kembali menciumi bibir Henny sambil meremas-remas payudara Henny; sedangkan Helga sambil menciumi vagina Henny, tangannya mencari payudara Henny yang sebelah lagi. Habislah Henny diserang oleh kedua orang itu. Lebih lama daripada yang tadi-tadi, ketiganya seakan tidak peduli atas kehadiranku, mereka terpaku pada apa yang ada di hadapannya.

Apalagi kulihat Wiwik sudah berganti posisi dengan suaminya, dan gilirannya mengerjai vagina Henny, sedangkan suaminya kini menciumi payudara Henny, putingnya dilumat hingga Henny semakin kuat merintih. Kedua tangan Wiwik kulihat memegang labia Henny dan membukanya lebar-lebar, lalu dengan suatu gerakan lembut ia menjulurkan lidahnya menusuk liang vagina Henny.

Henny merintih, “Oooouhhhh Annnnn, terusin ….. yang dalam sayang!!!! Yahh gitu sayangggg ……” Remasan tangan Helga pada payudara Henny berganti-ganti dengan gigitan lembut, membuat Henny semakin mengawang-awang menggapai kenikmatan. Wiwik mendukung aksi suaminya dengan menjilati dan mengisap klitoris Henny.

Pantat Henny sesekali terangkat dan pinggulnya menggeliat-geliat diserang Wiwik. Aku hanya melihat mereka sambil sesekali menelan ludah. Wiwik menatapku dan menarik tanganku mendekati mereka. Ia mencium bibirku. Kurasa aroma khas vagina Henny pada ciuman Wiwik.

Kami berpagutan dengan erat. Helga masih terus mencium dan meremas payudara Henny. Wiwik mengajakku bersama-sama mencium vagina Henny. Kuikuti ajakannya. Tiba-tiba Henny berkata, “Udah dulu dong! Masak aku diserang tiga orang sekaligus?” Kami tertawa-tawa.

Wiwik kemudian berkata, “Kita ke kamar aja yuk biar lebih enak pada permainan sesungguhnya?” Helga tidak menjawab, tapi mengikuti ucapannya. Henny masih terbaring dengan napas tersengal-sengal menahan nafsu yang mendekati puncak.

Aku berdiri bergandengan dengan Wiwik mengikuti Helga, tapi kutahan langkahku melihat Henny masih terbaring di karpet. “Kenapa Gus? Yah udah, kalau kamu kasihan pada Henny, gendong aja dia, udah lemes tuh!” katanya melepaskan tanganku.

Aku berlutut di samping Henny, kuletakkan tangan kiriku di bawah lehernya dan tangan kananku di bawah lututnya. Lalu tanpa meminta ijinnya, kugendong dia. Kedua tangan Henny memeluk leherku seakan-akan takut jatuh. Sambil menggendongnya kulangkahkan kaki ke kamar tidur Helga dan Wiwik. Henny sesekali mengangkat lehernya dan mencuri cium bibirku.

Aku membalas sambil membawa tubuhnya yang indah dan ketika tiba di kamar, tubuhnya kubaringkan di ranjang. Wiwik sudah membaringkan tubuhnya lebih dulu di situ. Begitu tubuh Henny terlentang di ranjang, Wiwik langsung memagut bibir Henny sambil jari-jarinya mengelus-elus sekujur tubuh Henny. Helga melihat mereka berdua sambil memberi isyarat padaku untuk menonton adegan yang dipertontonkan kedua perempuan itu.

Henny membalas ciuman Wiwik dan balas menciumi bibir Wiwik dan dengan ganas turun ke leher dan dada Wiwik. Wiwik kini ada di bagian bawah, dengan Henny di atas tubuhnya menciumi leher, payudara, perut dan kini mengarah ke paha Wiwik.

Ciuman Henny berhenti di paha Wiwik dan kedua tangannya menguakkan labia vagina Wiwik serta mencari klitoris dan menjilati vagina Wiwik. Wiwik tidak mau tinggal diam diperlakukan seperti itu, pantat Henny ia tarik dan ia tempatkan paha Henny tepat di atas wajahnya, lalu ia melakukan hal yang serupa terhadap Henny. Kedua perempuan itu kini berada dalam posisi 69.

Saling mencium, menjilat, sambil mendesah, mengerang dan merintih. Rintihan mereka semakin memuncak ketika keduanya kami perhatikan menusukkan jari ke dalam vagina yang lain sambil menciumi vagina dan klitoris. Dengan suatu jeritan panjang, keduanya mengalami orgasme bersama-sama. Lalu keduanya saling berciuman bibir, bersama-sama berbagi cairan vagina yang diperoleh.

Keduanya berpelukan di ranjang. Sedangkan aku dan Helga mendekati mereka berdua. Ranjang itu kini dimuati empat orang dewasa sekaligus. Wiwik ada di dekatku, sedangkan Henny ada di dekat suaminya. “Gus, Henny pengen sekali kenalan dengan penismu,” bisik Wiwik lembut di telingaku sambil menciumi dagu dan bibirku.

“Hmmm, makin gila aja kita ini,” kataku sambil membalas ciumannya. Kulirik Helga juga sedang berciuman dengan Henny. Helga semakin ganas menciumi bibir, leher dan dada Henny. Mungkin ia masih terpengaruh oleh adegan lesbian tadi yang ditampilkan kedua perempuan itu. Aku sendiri merasa hampir orgasme tadi, tetapi kutahan dengan mengalihkan perhatian kepada hal-hal lain.

Helga menciumi setiap liku-liku tubuh Henny hingga kembali Henny mendesah dan mengerang. Wiwik menciumi tubuhku hingga penisku mencapai ketegangan puncak. Saat akan kumasukkan penisku ke dalam vagina Wiwik, ia justru menolak tubuhku, “Ntar Gus, giliran Henny dulu.

Sudah lama ia berharap.” “Lho, dia kan sedang main dengan suamimu?” protesku. “Nggak apa-apa, kalian berdua kerjai dia dulu. Ntar baru giliranku. Sudah lama ia tidak dikunjungi suaminya. Haus banget tuh!” katanya menjawab protesku. “Kulihat Henny mendesah-desah diciumi vaginanya oleh Helga. Kedua tangannya meremas-remas payudaranya.

Wiwik mendekati mereka berdua dan mencium bibir Henny sambil meremas-remas payudara Henny. Kedua tangan Henny kini mengelus punggung Wiwik sambil sesekali meremas payudara temannya. Wiwik memainkan lidahnya dan menggelitik leher Henny.

Henny menggelinjang. Tanganku ditarik oleh Wiwik mendekat, sehingga aku kini ikut ke dalam kancah pertempuran. Pantatku ditarik oleh Wiwik mendekati wajah Henny hingga penisku tepat berada di atas mulutnya. Lidahnya mulai menjulur keluar dan menjilati kepala penisku. Lalu ia mengangkat lehernya dan dengan bantuan tangan kirinya, dipegangnya penisku memasuki mulutnya.

Tak kalah dengan permainan lidah dan mulut Wiwik, Henny pun memainkan penisku dengan hebatnya. Aku merasakan darahku mengalir deras memasuki setiap sel di penisku dan gelora birahi mencapai ubun-ubunku hingga rasanya sudah ingin mencapai orgasme.

Tapi kutahan gelora tersebut. Kudengar Wiwik berkata pada suaminya, “Mas, kasih kesempatan pada Agus dong, biar mereka dulu yang main sayang!” Suaminya bangkit dan memberi kesempatan padaku untuk mendekati bagian vagina Henny. Aku tidak lagi menciumi vaginanya, kuatir spermaku muncrat. Kugesekkan penis pada klitorisnya dan kemudian ke celah-celah vaginanya.

Henny mengerang sambil menarik pantatku agar semakin dalam memasukkan penis ke dalam vaginanya. Aku menancapkan penis ke dalam vaginanya dengan irama pelan namun teratur. Henny semakin meracau mendapat perlakuan demikian, “Gus, yang dalam dong. Cepetan, aku sudah nggak kuat nich?” pintanya. “Nggak ku ku nich yeee?” goda Wiwik dan ditimpali suaminya dengan ucapan, “Iya tuh Gus, masak tidak kasihan pada kaum yang lemah sich?”

Kupercepat gerakan pantatku menekan sambil melempar senyum pada Wiwik dan Helga. Sambil memaju-mundurkan pantatku, dalam hati aku berterima kasih pada kedua suami istri ini, sebab mereka membuatku dapat merasakan vagina perempuan Sunda seperti Henny.

Agak beda dengan Wiwik. Di bagian dalam vaginanya seakan-akan ada mpot ayamnya. Tak ingin menyerah padanya, kutarik penisku keluar vaginanya dan kupegang penisku pada pangkalnya dengan tangan kananku lalu kugesek-gesekkan kembali pada klitorisnya. Henny mendesah dan merintih semakin lirih, “Gussss, ayooooo masukin lagi sayang! Aku mau sampai nich….. Oooouggghhhh enak banget siccchhhh?” Geliat pinggulnya semakin cepat.

Payudaranya diciumi dan diremas oleh Helga sedangkan bibirnya dilumat lagi oleh Wiwik. Diserang bertiga begitu, tentu saja ia blingsatan. Kembali penis kumasukkan sedalam-dalamnya ke vaginanya. “Ahhhhhh, nikmaattttnya Gusss!!!” rintihnya. Gerakanku kini semakin kencang mengimbangi geliat tubuhnya, apalagi ketika pantatnya terangkat-angkat seakan-akan menginginkan penisku masuk lebih dalam lagi.

Kuletakkan kedua tanganku di bawah pinggulnya dan agak kuangkat pantatnya hingga hunjaman penisku semakin dalam. Kedua pahanya melingkari pinggulku dengan ketat. “Kuat benar perempuan Sunda ini, jepitannya maut,” batinku.

“Ahhhh, Guss …. Aku dapat …… oooooouuugghhhh ….. sshshhhhh,” jeritnya sambil menyorongkan pantat dan pinggulnya ke arah pahaku sehingga kedua kemaluan kami begitu rapat menyatu, seakan tak dapat dipisahkan lagi. “Ya sayang, sama-sama, aku juga dapet niccchhh …. Akkkkhhhh ….” geramku sambil menancapkan penis hingga ke pangkalnya. Kurasakan mpot-mpot ayam di dalam vaginanya meremas-remas kepala penis dan denyutan dinding vaginanya begitu hebat menjepit kulit batang penisku. Kuhentakkan beberapa kali penis sedalam-dalamnya ke dalam vagina Henny.

Helga meremas dan menggigit mesra payudara Henny bergantian kiri dan kanan, sedangkan Wiwik tak melepaskan bibir Henny dari pagutan mautnya. Henny masih terengah-engah waktu kucabut penisku. Helga yang melihat Henny terbaring mencoba mengarahkan penisnya ke dalam vagina Henny, tapi Henny menolak, “Jangan dulu Dick, masih lemas nich! Kamu dengan Wiwik dulu dech!” Helga tampak agak kecewa, tapi Wiwik mencium bibir Helga sambil menghibur, “Benar sayang, kenapa kamu tidak denganku saja dulu, ntar kalau Henny sudah segar lagi, baru kau kerjai dia.”

Helga tak menjawab. Setelah membalas ciuman Wiwik, ia menyuruh istrinya nungging dan menempatkan diri di belakang istrinya. Entah ia dendam atas kata-kata istrinya, ia tidak pakai aba-aba lagi, bukannya memasukkan penisnya ke dalam vagina, malah ia langsung mengarahkan penisnya ke anal Wiwik. Wiwik yang juga sudah naik birahi melihatku main dengan Henny, menerima saja perlakuan suaminya.

Namun ia menempatkan wajahnya di antara kedua pahaku yang berbaring di samping Henny. Sambil menikmati hunjaman penis suaminya, ia mencium dan menjilati penisku yang masih belepotan dengan cairan vagina temannya dan spermaku.

Tanpa merasa jijik sedikit pun, ia melakukan hal itu, sambil menggenggam penisku yang kembali tegang diperlakukan seperti itu. Henny tersenyum melihat mereka dan melabuhkan ciumannya pada bibirku. Aku meraba payudara Henny sambil menikmati kuluman bibir dan jilatan lidah Wiwik pada penisku. Henny kembali terangsang kuremas dan kurabai payudaranya.

Tapi aku tidak memberikan peluang untuknya lagi, sebab sudah punya rencana sendiri. Kuangkat wajah Wiwik dari celah-celah pahaku dan kupindahkan ke vagina Henny. Semula Wiwik mau protes, tetapi ia mungkin belum mengerti apa yang akan kulakukan. Aku bangkit dari posisi berbaring dan kutarik tubuh Wiwik agar berada pada posisi berlutut.

Sambil tetap dikerjai suaminya dari belakang, aku ciumi bibir Wiwik dan kutempatkan tubuhku tepat di bawah tubuhnya. Kini vaginanya tepat berada di atas penisku. Kuarahkan penisku ke vaginanya sambil terus menciumi bibirnya. Wiwik tersenyum, sekarang baru ia mengerti mengapa aku menaruh wajahnya tadi pada vagina temannya.

Kini penisku berada di dalam vagina Wiwik, sedangkan penis suaminya menancap di anal Wiwik. Mulutku kuarahkan pada payudara Wiwik agar ia kembali dapat mencium dan menjilati vagina temannya. Henny kembali diserang oleh Wiwik yang mendapat keroyokan suaminya dan aku. Wiwik semakin mendesah dan rintihannya seperti biasanya, yang cenderung ke arah jeritan, membahana ketika penis suaminya semakin cepat masuk keluar analnya, sedangkan penisku masuk keluar ketika ia memaju-mundurkan tubuhnya di atasku.

“Aaaauuuuhhhhh, enakknnyaaa …. Aduuuhhhh …. nikmat !!!” keluar dari dalam mulutnya. Suaminya memegang kedua pinggulnya sambil menghentakkan penis sedalam-dalamnya sambil bertanya, “Mana yang paling enak, sayang? Punyaku di pantatmu atau punya Agus di mem*kmu?” Wiwik menjawab di sela-sela rintihannya, “Ssshshh, aaaahhhhh…. punyamu enak banget sayang, besar dan panjang, tapi jangan terlalu kuat, ntar pecah ususku, sayang! Ooouggghhhh, punyamu juga enak Gus, tidak terlalu besar, eeehhhsss, tapi mainnya lincah banget sichhhhh? Ohhhhhh ….”

Helga memperlambat laju pantatnya maju mundur di belakang pantat Wiwik. Henny kudengar merintih makin kuat, mungkin sebentar lagi ia akan orgasme pula. Helga mengerang dan memeluk tubuh istrinya kuat-kuat dari belakang. Ia rupanya sudah orgasme.

Wiwik, entah karena sudah sering kami kerjai berdua, semakin kuat melawan, agak lama baru orgasme. Pada puncak orgasmenya, ia menggeram kuat-kuat dan memeluk punggungku dengan kuatnya sambil mencium bibirku dan menggigit lidahku, sementara payudaranya diremas kuat-kuat oleh tangan suaminya dari belakang.

Bersamaan dengan itu, jari-jarinya menekan klitoris dan vagina Henny, dan kudengar Henny juga menjerit, “Annnn, aduuhhhh aku dapet lagi sayang!!!!” Aku sendiri, karena baru orgasme waktu dengan Henny, belum keluar lagi. Dengan penis yang mulai layu, Helga menarik tubuhnya dari belakang tubuh istrinya. Istrinya masih berbaring menelungkup di atas tubuhku sambil menikmati penisku yang masih tegang dalam vaginanya.

Helga beringsut ke dekat Henny dan berciuman sambil berpelukan dengan Henny sambil menyaksikan istrinya masih menindih tubuhku di bagian bawah mereka. Vagina Wiwik masih berdenyut-denyut menjepit penisku. Tak lama kemudian ia mengangkat tubuhnya dari atasku dan menarik diriku berbaring di dekat suaminya dan Henny.

Kami berempat berbaring bersisian sambil sesekali berciuman atau mengusap lembut tubuh yang lain. Setengah jam kemudian Henny bangkit menarik tanganku dan Helga dan mengajak kami berdua main lagi dengannya. Rupanya ia penasaran melihat temannya kami serang berdua tadi. Helga tidak menolak. Ia berciuman dengan Henny sambil mengusap-usap payudara Henny dan merabai vaginanya.

Aku masih berbaring menatap mereka berdua sambil mengelus-elus payudara Wiwik. Kutoleh ke arah Wiwik seolah meminta persetujuan, Wiwik seakan mengerti maksud tatapanku, berkata, “Ayo Gus, kamu ladeni lagi Henny. Ia juga kuat koq, jangan kuatir ia bakal pingsan ntar. Kamu udah tahu kehebatan mem*knya tadi, kan?” “Iya tuh, kayak ada cincin baja aja dalam mem*knya, penisku hampir tak bisa bernafas dibuatnya,” kataku bercanda.

“Emangnya aku tukang besi, sampe memasukkan cincin baja ke dalam mem*kku?” bantah Henny di sela-sela ciuman bibirnya dengan Helga. Kami berempat tertawa. Aku masih berbaring ketika Helga menempatkan tubuh Henny di atas tubuhku. Rupanya Helga ingin aku mengerjai anal Henny sambil ia memasukkan penisnya ke dalam vagina Henny.

Henny berjongkok di atas pinggangku, membelakangi wajahku dan perlahan-lahan menaruh penisku tepat di atas analnya. Kurasa ia agak mengalami kesulitan, sebab agak lama barulah penisku dapat memasuki analnya. “Aaauuuhhh, koq agak sakit An? Waktu kamu masukkan penis buatan koq tidak sesakit ini?” tanyanya pada Wiwik. “Penis buatan kan lebih kecil daripada kont*l Agus, sayang! Coba kamu nikmati, ntar lagi bakalan enak deh, dijamin halal,” katanya. Henny tidak menjawab, desah kesakitan yang keluar dari mulutnya berganti dengan rintihan nikmat, agaknya ia mulai merasakan kenikmatan akibat masuknya penisku ke dalam analnya.

Sejenak kami berdua merasakan posisi tersebut. Wiwik kulihat berlutut di sebelah kiri kepalaku, meremas-remas payudara Henny sambil memberikan vaginanya kukerjai. Helga mendekati Henny dan menempatkan penisnya ke vagina Henny. Maka mulailah episode baru seperti yang dialami Wiwik tadi, dengan pemain utama yang berbeda, yaitu Henny.

Henny melenguh pelan waktu penis Helga yang agak besar melesak ke dalam vaginanya. “Ehssshhhh, pelan-pelan Dick, penismu jumbo sich!” desisnya disertai tawa ringan Wiwik mendengar gurauan temannya terhadap penis suaminya. “Emangnya ikan lele, Hen?” Desahan nikmat Henny bercampur erangan Helga dan aku.

Wiwik belum terdengar mengerang, mungkin karena vaginanya belum tuntas kukerjai. Kedua tangan Henny bertumpu ke belakang menahan tubuhnya, sedangkan Helga terus memasuk-keluarkan penisnya ke dalam vaginanya, sementara penisku dari bawah berada pada posisi pasif bergantung pada kehendak Henny menaik-turunkan pantatnya agar analnya masuk keluar menikmati hunjaman penisku.

Kugeser letak kedua paha Wiwik agar berpindah tempat hingga kini posisinya berlutut tepat di atas wajahku, tubuhnya tepat berada di belakang Henny, menyangga tubuh Henny yang melengkung ke belakang di atas tubuhku. Kulihat dari bawah, kedua tangan Wiwik meremas-remas payudara Henny. Terangsang melihat ulahnya, kuarahkan kedua tanganku meremas-remas kedua payudara Wiwik.

Helga kudengar semakin kuat menggeram, mungkin ia semakin dekat ke puncak kenikmatannya. Laju penisnya kurasa semakin cepat di atas tubuhku, masuk keluar vagina Henny. Desahan kami berempat bercampur, tetapi rintihan kedua perempuan itu mengalahkan suara Helga dan aku. Cairan vagina Wiwik semakin deras menetes ke dalam mulutku.

Apalagi sewaktu kujulurkan lidahku dalam-dalam ke liang vaginanya atau ketika klitorisnya kuisap kuat-kuat. “Sssshh, terusin Gus, yah, yahhhhh gitu sayang! Enakkkkhhh tuuuuhhh, ooouggghhh…..” rintihnya sambil meliuk-liukkan tubuh di atas wajahku.

Kupercepat isapan pada klitorisnya sambil memberi variasi dengan menjilat dan mengisap kedua labia vaginanya bergantian, kiri kanan. “Henn, aku mau keluar nih …. Kamu sambut ya sayang?” kudengar suara Helga dan tiba-tiba ia mencabut penisnya dan mengarahkannya ke mulut Henny. Henny menyambut gembira penis Helga.

Digenggamnya dengan tangan kanan batang penis Helga sedang tangan kirinya mengusap lembut testis Helga. Beberapa isapan mulutnya membuat Helga tak kuasa lagi menahan semprotan spermanya dan ia mendorong penisnya ke dalam mulut Henny. Wiwik kulihat semakin kuat menggeliat dan mengerang. Agaknya ia pun bakal menyusul suaminya.

“Ooohhh, Gus, aku orgasme sayang!” erangnya sambil menggesek-gesekkan labianya ke wajahku. Habislah wajahku dipenuhi oleh vaginanya yang basah dengan sedikit rambut halusnya. Kedua suami istri itu kemudian saling berpelukan dan berciuman sambil melihat kami berdua, Henny dan aku masih dalam posisi semula.

“Tukar posisi dulu Hen, biar kamu cepet sampai!” saran Wiwik. Henny bangkit berdiri hingga penisku keluar dari dalam analnya. Lalu ia menungging membelakangiku, berharap aku mengerjainya dengan doggy style. Aku berdiri di belakang tubuhnya, mengusap-usap pahanya yang putih mulus dan dengan perlahan-lahan memegang kedua pangkal pahanya dengan kedua tanganku.

“Lho, mau pakai gaya apa Gus?” tanyanya penasaran. “Tenang saja, sayang, pokoknya nikmati saja!” kataku sambil mengangkat kedua belah pahanya mendekati pinggangku dan kuarahkan penisku ke dalam vaginanya. Diperlakukan begitu olehku, Kedua tangannya hampir tak kuat menahan tubuhnya, ia menahan tubuh bagian atasnya dengan kedua siku tangannya sedangkan vaginanya mulai disusupi oleh penisku.

Dengan doggy style yang divariasi begini, membuat tusukan penisku pada klitoris dan liang vaginanya semakin maksimal, dan desahan Henny berganti menjadi jeritan-jeritan kecil penuh kenikmatan. “Ahhh, nikmat sekali An! Pinter banget temanmu ini memberi kenikmatan padaku?” Wiwik hanya tersenyum memandangi Henny.

Suaminya Helga duduk bersandar di punggung ranjang menatap kelakuan kami. Penisku masuk keluar vagina Henny semakin kuat. Kedua belah pahanya kutarik dan kudorong makin cepat hingga penisku mendapat tekanan yang hebat ketika kutarik kedua pahanya, tetapi ketika kudorong ke depan, denyutan vaginanya seolah-olah tak rela ditinggalkan penisku.

Dengan beberapa kali hentakan, kuhantarkan Henny ke puncak kenikmatannya. Teriakan panjangnya terdengar, tetapi dengan cepat mulutnya disumpal oleh mulut Wiwik yang begitu lincah memagut. “Auuuggghhhh, mmmppppfff …. Aaahhh.” Kami berempat berbaring sambil meredakan nafas yang terengah-engah.

Aku masih belum orgasme lagi sementara mereka bertiga sudah mendapatkan orgasme barusan. Rasa kurang puasku agaknya dipahami Wiwik yang tahu bagaimana daya tahanku, sebab ia selama ini sangat tahu bagaimana cara memuaskanku. “Kalian berdua di sini dulu, ya? Aku mau berduaan dengan Agus dulu,” katanya sambil menarik tanganku dan turun dari ranjang.

“Wah, ada rahasia apa nih Dick, koq kita berdua tidak diajak ya?” goda Henny sambil melihat ke arah Helga. Helga hanya mengangkat bahu sambil menarik tangan Henny agar mendekati dia. Helga memeluk tubuh Henny sambil mencium bibirnya dengan lembut. Henny membalas dan mereka kembali terlibat dalam ciuman yang memabukkan, tak peduli lagi terhadap Wiwik dan aku.

Dengan bertelanjang, Wiwik menarik tanganku. Kami berdua melangkah ke ruang tengah. Wiwik mengajakku ke arah sofa, tapi tidak untuk duduk, melainkan menempatkan tubuhnya di atas sandaran sofa dengan kaki kanannya naik mengangkangi sandaran sofa, sedangkan kaki kirinya menapak ke lantai. Ini salah satu variasi dari doggy style yang juga merupakan salah satu posisi favoritnya.

Perlahan-lahan kugesekkan penisku ke vaginanya dari belakang. Masih lembab kurasakan vaginanya. “Masukin Gus, ayo!” pintanya. Kumasukkan penisku makin dalam ke vaginanya. Beberapa tusukan yang kulakukan membuat Wiwik merintih, tidak hanya mendesah. Itu akibat tekanan penisku pada klitoris dan dinding vaginanya.

“Lebih cepat lagi, sayang!!!” rengeknya manja. Kuikuti permintaannya dengan semakin mempercepat laju pantatku maju mundur, sehingga penisku makin cepat masuk keluar vaginanya. Kedua tanganku kujulurkan ke depan merabai kedua payudaranya, yang kiri berada di sebelah kiri sandaran sofa sedang payudara kanannya berada di sebelah kanan sandaran sofa. Remasan tanganku pada kedua payudaranya ditambah tusukan penisku membuatnya makin terangsang hebat. Apalagi ketika tubuhku kutempatkan tepat di atas punggungnya sambil meremas dan menusuk, kujilati punggungnya dan sesekali menggigit lembut pundaknya.

Rintihan Wiwik semakin menaik dan geliat pinggulnya semakin kuat. “Guuusss ….. aaaahhhhh ….. enaknyaaa …. Aku dapat lagiiiii sayangggg ….” Aku ingin bersamaan mencapai puncak kenikmatan, sehingga berusaha mengejar dirinya dengan semakin kuat menggerakkan penisku di dalam vaginanya yang semakin kuat menyedot penisku.

Denyutan dinding vaginanya membuat penisku sampai pada puncak aksinya dan dengan suatu erangan kenikmatan, kutusukkan penisku sedalam-dalamnya sambil memeluk tubuh Wiwik dan meremas payudaranya. Penisku merasakan kenikmatan yang hebat sewaktu kepala penisku kubenamkan dalam dan membiarkannya di dalam vaginanya. Kedutan-kedutan halus kurasakan pada kepala penisku, hingga rasanya aku tak lagi menjejak bumi. “Plok, plok, plok, plok,” kudengar suara tepukan dua pasang tangan. Rupanya Helga dan Henny sudah berdiri tinggal beberapa meter dari kami dan melihat kami berdua main.

“Ada acara nambah nich yee?” gurau Henny sambil mendekati kami dan bersama-sama Helga duduk di sofa dekat kami. Aku tersenyum mendengar kata-kata Henny. Beberapa saat kemudian kucabut penisku dan berdiri lalu mengambil tempat duduk di dekat mereka. Wiwik lalu menyusul hingga kami berempat duduk di sofa dalam keadaan masih bertelanjang bulat. “Aku jadi pengen lagi nih Dick. Gimana, bisa bantu aku nggak?” tanya Henny pada Helga.

“Sepanjang bisa kulakukan, silakan tuan putri,” sambut Helga dengan gaya seorang hamba terhadap tuan putrinya. Henny lalu berdiri dan mengalungkan kedua lengannya ke leher Helga, sambil mencium bibir Helga ia berbisik pelan tanpa dapat aku dan Wiwik dengar apa yang ia bisikkan. Kami hanya tersenyum melihat ulah Henny.

Setelah beberapa saat mereka berciuman sambil berpelukan dalam keadaan berdiri, tiba-tiba kami amati Helga berjongkok dan memegang pergelangan kaki Henny lalu membalikkan tubuh Henny hingga kini kedua tangan Henny bertumpu ke lantai sedangkan kedua kakinya berada di atas dipegangi oleh kedua tangan Helga pada bagian pergelangan kakinya.

“Posisi 69 dimodifikasi,” bisik Wiwik perlahan. “Asyik juga tuch. Kapan-kapan kita coba ya, Gus?” sambungnya. Aku mengangguk sambil menatap lekat-lekat pada Helga dan Henny. Sambil bertumpu pada kedua tangannya yang ada di lantai, kepala Henny bergerak-gerak mendekati pangkal paha Helga mencari penisnya.

Lalu lidahnya mencium dan menjilati penis Helga. Helga sendiri tidak tinggal diam, diperlakukan demikian, ia tak kalah ganasnya, lidahnya terjulur ke vagina Henny yang ada tepat di depan wajahnya. Keduanya saling mencium, menjilat dan mengisap kemaluan yang lain dalam posisi enam sembilan, namun dalam posisi si pria berdiri, sedangkan si perempuan berada pada posisi terbalik dengan kedua tangannya bertumpu di lantai.

Wiwik bangkit berdiri mendekati mereka berdua. Ia mendekati belakang tubuh Henny dan menciumi pantat Henny. Kadang-kadang mulutnya bertemu dengan mulut suaminya. Mereka berciuman dan sesekali sama-sama menjilat vagina Henny. Lubang anal Henny tak luput dari jilatan lidah mereka berdua. Henny benar-benar dikerjai habis-habisan oleh kedua suami istri itu.

Rintihan Henny tak membuat mereka menghentikan aksinya, bahkan semakin liar mencium, menjilat dan jari-jari Wiwik turut bekerja masuk keluar vagina dan anal Henny, hingga tak kuasa lagi Henny pun meraung mencapai titik kenikmatan tertinggi. Entah bagaimana cara mereka mengerjai Henny, tapi aku terkejut juga sewaktu melihat Henny menjerit, sebab dari vaginanya kulihat cairan muncrat beberapa kali.

Mungkin karena ia benar-benar sampai kepada kenikmatan yang tak terkira hingga air seninya turut keluar bersamaan dengan cairan vaginanya, pikirku dan kuingat kejadian yang suka dialami Wiwik kalau main sampai begitu hebatnya denganku. Helga mengangkat dan meletakkan tubuh Henny di sofa panjang tepat di samping kiriku.

Wiwik mengambil tempat di sebelah kananku, sedangkan Helga duduk di sebelah kiri Henny. Beberapa ciuman didaratkan Helga pada bibir Henny. Wiwik tak kalah buas dengan suaminya, memagut bibirku dengan lahapnya sambil jari-jarinya mengelus-elus dadaku. Henny sendiri mengelus-elus penisku sambil terus berciuman dengan Helga.

Aku melirik ke jam dinding, menunjukkan pukul 02.30. Tiga jam sudah kami berempat melakukan hubungan seks gila-gilaan sejak main kartu tadi. Setelah mengaso beberapa saat, Helga kembali terangsang sebab elusan jari-jari Henny pada penisnya membuat penisnya kembali tegang. Bertelekan pada sofa kecil tanpa sandaran, dengan sebelah kaki menekuk, Henny dihajar dari belakang oleh Helga. Melihat mereka, Wiwik tak mau ketinggalan. Ia memintaku melakukan hal yang sama dalam arah yang berlawanan, sedemikian rupa hingga wajahnya berdekatan dengan wajah Henny.

Aku menyetubuhi Wiwik dari belakang, sedang suaminya, Helga, menancapkan penisnya ke vagina temannya, Henny. Helga dan aku makin terangsang dan mempercepat laju permainan kami manakala melihat Henny dan Wiwik berciuman dengan mesranya sambil tangan mereka bermain meremas-remas payudara satu sama lain.

Helga tak lama kemudian orgasme dan menarik diri dari arena pertempuran, namun kedua perempuan itu belum mencapai puncak kenikmatan lagi. Kubaringkan tubuhku di karpet dan meraih tubuh Henny agar menindih tubuhku. Dengan posisi menduduki perutku berhadapan denganku, Henny memasukkan penisku ke dalam vaginanya lalu mulai menaik-turunkan tubuhnya di atas perutku.

Wiwik yang melihat permainan kami berlutut di samping kami berdua. Kuraih pahanya agar mendekatiku, dan kutempatkan vaginanya tepat di atas wajahku. Dengan aku berbaring di bawah tubuh mereka berdua, penisku menancap dengan mantapnya di dalam vagina Henny, sedangkan vaginan Wiwik kucium dan jilat semakin gencar.

Permainan bertiga kami semakin hangat ketika kedua perempuan itu saling berciuman. Sambil berciuman, Henny meremas-remas payudara Wiwik dan mengelus-elus putingnya. Tak mau ketinggalan aksi, Wiwik pun meremas-remas payudara temannya, bahkan sesekali menarik-narik putingnya hingga mata Henny membeliak-beliak menahan nikmat. Gerakan Henny semakin buas naik-turun di atas perutku.

Kusambut gerakannya dengan sesekali menaik-turunkan pinggul hingga penisku benar-benar masuk sedalam-dalamnya ke vaginanya. Wiwik membantu aksiku dengan merabai klitoris temannya pakai tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya terus meremas payudara Henny dan memilin-milin putingnya.

“Uuuhh, oooohh …. Sssshhhh…. Gila kamu An, diapain klitorisku?” desahnya sambil terus menarik-turunkan tubuhnya dan meremas-remas payudara Wiwik. Diserang dari dua jurusan seperti itu, membuat Henny makin kencang menggeliat-geliatkan tubuhnya dan dengan satu lengkingan kuat, ia mencapai orgasme. Dengan lincahnya, Wiwik memagut bibir temannya kuat-kuat dan memegang kedua payudara Henny dengan remasan yang amat kuat, sehingga kedua putingnya kulihat menyembul begitu indah dan runcing.

Lengkingan Henny berubah menjadi rintihan ketika Wiwik mencium bibirnya dan menyedot puting payudaranya secara bergantian dengan gerakan yang cepat, “Ooohhhh, ssss…. Ahhhhh ….. ooouuggghhhhh ….. Annnn ……” “Luar biasa kedua perempuan ini, tak kenal lelah. Pantas Helga suka kewalahan melayani istrinya yang begini kuat main seks,” kataku dalam hati.

Wiwik kemudian menggeser tubuh Henny agar bangkit berdiri. Wiwik kemudian menempatkan tubuhnya di atas perutku, seperti posisi yang barusan dilakukan temannya dan menarik tubuh Henny agar berganti dengannya. Diserang dari dua jurusan seperti itu lagi, membuat penisku terus tegang dan kembali memasuki vagina yang berbeda.

Kini vagina Wiwik dengan sedikit rambut halusnya mendapat giliran untuk kuhantarkan ke gerbang kenikmatan. Vagina Henny yang masih basah kuyup dan tetesan cairan vaginanya di sela-sela pahanya, kujilati dengan lembut dan kumasukkan lidahku ke dalam vaginanya, menelan seluruh cairan yang masih tersisa di dalam.

Wiwik bergerak naik turun di atas perutku, tak ingin kalah aksi dengan temannya barusan, ia pun menggeliat-geliatkan tubuhnya sedemikian rupa dengan gerakan erotis, hingga penisku kurasa mendapatkan remasan yang kuat dan denyutan yang luar biasa di dalam vaginanya. Sesekali ia menghentikan gerakannya dan berkonsentrasi pada vaginanya yang melakukan gerakan menyedot dan mengisap penisku.

Denyutan dinding vaginanya begitu nikmat membuatku seakan-akan terbang di angkasa. Rupanya ia ingin menunjukkan kebolehannya dibandingkan temannya tadi. Henny tersenyum melihat aksi temannya dan meremas-remas payudara Wiwik. Sesekali Henny menampar ringan pantat Wiwik, sehingga Wiwik mem*kik-mekik, “Ahhh …. Ooohhh ….. terusin Hen …… oooohhh …. ssssssshh ….. adddduuuhhhhh …. nikmaatttt …. aaahhhhh ….” Menyaksikan perbuatan kedua perempuan di atasku, membuatku tambah bersemangat.

Kuhentakkan pinggul dan perutku kuat-kuat ke atas, hingga tubuh Wiwik tersentak ke atas, “Oooouuggghhh …… enak Gussss …. Oooohhhh …. sssshhh …” desisnya seperti orang kepedasan. Remasan Henny pada payudara Wiwik membuat Wiwik semakin kuat menggeliat-geliatkan tubuhnya dan kembali ia menaik-turunkan tubuhnya di atas perutku. Sementara itu, jilatan dan isapan bibir dan lidahku semakin ganas mengerjai vagina dan klitoris Henny.

Sesekali lubang analnya kukait-kait dengan lidahku, hingga Henny pun kembali merintih. Merasakan rangsangan pada vaginanya, membuat Henny kembali menciumi bibir Wiwik dengan kuat. Henny dengan sisa-sisa kekuatannya mencoba bertahan, tetapi dengan isapan bibirku dan jilatan lidahku, membuatnya tak lama kemudian kembali orgasme.

“Aaaahhhh… Gus, aku dapat lagiiiii sayangggg!” rintihnya. Hebat juga, bisa berturutan dalam waktu berdekatan, ia capai kembali puncak kenikmatan. Ia mencoba menarik kedua pahanya dari serangan mulut dan lidahku, tetapi kutahan kedua pahanya dengan tanganku sambil meremas-remas payudaranya.

Wiwik yang melihat temannya sudah orgasme lagi, membalas ciuman Henny dan membelai-belai punggung Henny, meremas-remas pantat dan juga payudara temannya. Penisku yang dikerjai Wiwik semakin tak kuasa membendung aliran yang akan keluar.

“Ann ….. uuuuhhh … aku mau keluar, sayanggggg!!!” erangku sambil menggerakkan pinggulku ke kiri dan kanan. “Ok sayang, kita bareng ya? Aku juga mau dapet nihhh …. Ayo tancap yang kuat, oooohhhhh …. uuuuhhh …. mmmmfffhhhhhh ……. Ooooouuugggghhhh ….” rintihan Wiwik berubah menjadi jeritan memenuhi ruangan itu.

Kurasakan aliran spermaku keluar dengan derasnya ke dalam vagina Wiwik. Wiwik pun mencapai kenikmatan hingga tubuhnya melengkung ke belakang disertai serangan bibir dan lidah Henny pada payudaranya. Agak lama Wiwik melakukan itu, denyutan liang vaginanya meremas-remas penisku masih terasa begitu kuat, ketika Henny menarik dirinya dari atas wajahku dan menciumi bibir temannya. Kedua perempuan itu berciuman dengan mesra sambil mengelus-elus tubuh yang lain secara serempak.

Wiwik mangangkat tubuhnya dan mengeluarkan penisku dari dalam vaginanya, lalu seolah-olah sudah sepakat, keduanya menundukkan muka di pangkal pahaku dan menciumi penisku. Jilatan lidah keduanya membuat aku semakin mengawang. Kedua tanganku kugunakan untuk meremas-remas payudara kedua perempuan itu.

Rasa geli bercampur nikmat memenuhi diriku. Lidah yang satu bergantian menjilati kepala penisku. Batang penisku tak luput dari sasaran mereka. Bahkan testisku turut dikulum dimasukkan ke dalam mulut mereka secara bergantian. Henny yang pertama-tama kulihat memasukkan penisku ke dalam mulutnya hingga masuk sedalam-dalamnya.

Sekitar tiga menit ia melakukan itu, lalu menyorongkan penisku ke mulut Wiwik. Wiwik menyambut dan menciumi kepala penisku, lubang kencingku dijilatinya dan dengan lahapnya ditelannya penisku hingga ke pangkalnya, persis seperti yang dilakukan temannya barusan. Setelah puas menelan penisku secara bergantian, mereka berciuman sambil memegangi penisku.

Permainan itu mengakhiri sesi kami saat itu. Sebab setelah sama-sama orgasme, kedua perempuan itu mengajak kami masuk kamar lagi dan akhirnya kami berempat tidur dalam keadaan telanjang hingga pukul 9 pagi. Paginya kami mandi berempat dan sempat saling berciuman di kamar mandi, tetapi tak ada permainan panas lagi di situ, sebab perut kami sudah lapar minta diisi.

Wiwik hanya memanaskan nasi dan menggoreng telur mata sapi untuk sarapan kami berempat, lalu kami berempat duduk-duduk di teras belakang membahas permainan kami semalam sambil tertawa-tawa. Begitulah pengalamanku main berempat dengan Helga, istrinya Wiwik dan teman istrinya, Henny. Sebelum hamilnya Wiwik, pernah ia mengajakku menginap di rumahnya waktu suaminya bertugas ke Hongkong selama 2 minggu.

Waktu aku menginap itu, temannya Henny datang beberapa kali sehingga kami bertiga melakukan hubungan seks panas. Dua hari menjelang pulangnya Helga, Henny menginap lagi bersama kami, tetapi kali ini ia tidak sendiri, melainkan membawa seorang temannya, Sigit, seorang gadis lajang peranakan Madura Ambon, orangnya tomboy, tidak cantik, tetapi dengan kulitnya yang hitam manis, dengan sedikit kumis tipis di atas bibirnya, membuat dirinya menarik, walaupun payudaranya paling kecil dibandingkan Wiwik dan Henny.

Mula-mula aku tak begitu senang karena melihatnya ngomong ceplas-ceplos, tetapi begitu kenal semakin lama, enak juga ngobrol dengannya. Malamnya ketika habis makan, ketiga perempuan itu mengajakku nonton film blue berempat. Film yang mereka putar adalah film lesbi, tetapi menjelang akhir film tersebut, dipertunjukkan kehadiran seorang pria yang dikeroyok tiga orang perempuan.

“Wah, apa ini pertanda baik atau buruk?” pikirku, harap-harap cemas. Pengen main dengan Henny dan Wiwik seperti biasanya, tetapi malu ada teman mereka. Lagi-lagi hal itu merupakan bagian dari rencana Henny dan Wiwik untuk mengerjaiku, sebab Sigit adalah teman Henny, juga bukan lesbi tulen, tetapi berulang-kali patah hati oleh perlakuan pria, hingga tak pernah berniat lagi untuk menikah.

Kehadiran Sigit ini membuka babak baru petualangan seksku, sebab ternyata ia sangat ahli dalam bermain seks, bahkan dengan alat bantu penis buatan, ia mampu membuat Henny dan Wiwik menjerit-jerit nikmat. Hebatnya lagi, mereka bertiga berhasil memperdaya diriku untuk mengajak main seks misterius, di mana kedua mataku ditutupi kain hitam, lalu kedua kaki dan kedua tanganku dipentang lebar-lebar dan diikat dengan tali ke empat sudut ranjang.

Aku yang memang penasaran akan pengalaman baru, mau saja diperlakukan begitu. Belakangan barulah aku tahu, bahwa Sigit ingin mengerjai analku dengan penis buatan yang ia ikatkan tepat di depan vaginanya. Sambil mengangkat kedua pahaku agar penis buatan itu masuk ke dalam analku, Henny dan Wiwik bergantian menduduki perutku dan memasukkan penisku ke dalam vagina dan anal mereka secara bergantian.

Sigit dengan penis buatannya juga mampu menyetubuhi Henny dan Wiwik secara bergantian sambil memintaku merojok vagina dan analnya dari belakang. Kisah itu akan kuceritakan pada kali berikut. Sayang, ketika Helga pulang, Sigit sudah kembali ke Australia, sebab ia mendapat kesempatan untuk meneruskan ke jenjang master, sehingga hanya cerita yang ia peroleh dari kami walaupun rasa penasaran membuatnya begitu ingin bertemu dan main bersama Sigit.

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil