Cerita Sex Nakal Penuh Nafsu 2st | Hasrat Sex
Obat Pembesar Penis VIMAX

Cerita Sex Nakal Penuh Nafsu 2st

Alt/Text Gambar Alt/Text Gambar

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Nakal Penuh Nafsu 2st. Berlanjut cerita sebelumnya Jantungku berdegup kencang juga saat melakukan itu, soalnya  bagaimanapun juga seumur hidup belum pernah aku telanjang di depan cewek sambil mempertontonkan alat vitalku sendiri, apalagi sampai dipegang-pegang segala.

Cerita Dewasa Nakal Penuh Nafsu 2st

Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan
Cerita Mesum Nakal Penuh Nafsu 2st

Wheeh… seperti mimpi rasanya saat jemari kedua tangan Aufa mulai menyentuh kepala penisku yang sedang ereksi. Apalagi batang penisku masih tetap manggut-manggut nggak bisa diam, Maklumlah the first time.

Pada mulanya jemari tangannya hendak ditarik lagi saat menyentuh batang penisku yang ereksi namun karena aku memegang kedua tangannya dengan kuat, dan memaksanya untuk memegang benda kesayanganku itu, akhirnya ia hanya menurut saja saat kurayu dia agar mau melakukannya.

Pertama kali Aufa hanya mau memegang dengan kedua jemarinya yang mungil. “Aah… terus sayang pegang erat dengan kedua tanganmu dik”, rayuku penuh nafsu.

“Iiih… keras sekali Mas”, bisik Aufa sambil tetap memejamkan matanya. Wajahnya yang manis kelihatan tegang dan sedikit berkeringat.

“Iya sayang, itu tandanya Mas sedang ereksi sayang, ayo dik genggam dengan kedua tanganmu, aahh…” aku mengerang nikmat saat tiba-tiba saja Aufa bukannya malah menggenggam lagi tapi malah meremas kuat. Ia terpekik kaget.

“Iiih sakit mass…” tanyanya melihatku berteriak dan menggelinjang geli dan nikmat, remasan kedua jemari tangannya yang halus itu seolah membuat diriku kesetrum keenakan. Aufa menatapku gugup. Kini secara bergantian jemari tanganku meremas kedua buah dadanya dengan lebih lembut.

Aufa menatapku dengan senyumnya yang mesra. Ia membiarkan tanganku menjamah dan meremas-remas kedua buah dadanya sampai puas. Hanya sesekali ia merintih dan mendesah lembut bila aku meremas susunya sedikit keras.

Kami saling berpandangan mesra, kupandangi sepuasnya wajah manisnya, sampai akhirnya aku sudah tak kuat lagi menahan desakan batang penisku yang sudah tegang, aku takut alat vital kesayanganku itu bisa patah gara-gara salah posisi.

“Auuggghh..” aku menjerit lumayan keras. Aku meloncat berdiri. Aufa yang tadinya sedang menikmati remasanku pada buah dadanya jadi ikutan kaget.

“Eeehh… kenapa Mas?”

“Aahh anu sayang… punya Mas sakit nih”, sahutku sambil buru-buru kubuka celana panjangku di hadapannya. Aku tak peduli, toh bagaimanapun dia pasti melihat juga nanti alat kelamin kesayanganku itu. Sruuut…. celana panjangku melungsur ke bawah, sementara Aufa yang tak menyangka aku berbuat demikian hanya memandangku dengan terbelalak kaget.

Cuek… daripada batang penisku kram nggak bisa bergerak mending kubuka saja sekalian CD-ku dan “Tooiiing”, batang penisku yang sudah tegang itu langsung mencuat dan mengacung keluar mengangguk-anggukan kepalanya naik turun persis burung kutilang kalau sedang menari-nari.

“aawww… Mas Ari jorok”, Aufa menjerit kecil sambil memalingkan mukanya ke samping. Jemari kedua tangannya di tutupkan ke mulut dan wajahnya. “He… he…” aku terkekeh geli batang meriamku sudah kelihatan tegang berat, urat-urat di permukaan batang penisku sampai menonjol keluar semua.

Kepala penisku terasa cenut-cenut melepas kebebasan setelah kurang lebih 1 jam terpenjara di dalam CD-ku yang sempit dan sumpek, maklum CD-ku memang sejak kemarin belum kuganti jadi baunya yaa… tahu sendirilah.

Batang penisku ini nggak panjang-panjang benar kok cuma sekitar 14 centi-lah kurang sedikit, tapi yang membuatku bangga adalah bentuknya yang mirip punya bintang film Tarzan-X Rocco Siffredi, montok dan berurat, diameternya aku nggak pernah ngukur tapi yang jelas cukup memuaskanlah buat ngesex kupikir.

Sementara Aufa masih menutup muka tanpa bersuara, kukocok batang penisku dengan tangan kananku, “Uuuaahh… nikmatnya”, sambil melepaskan ketegangan urat-urat yang menonjol keras di permukaan batang penisku akibat tergencet CD-ku tadi. Batang penisku itu tampak berkeringat basah, mungkin karena hawa di dalam CD-ku yang panas atau mungkin karena CD-ku yang belum kuganti.

Ketika tanganku yang kupakai ngocok tadi kucium. Wweeeghh… huuuekkk, baunya ampun… sialan pikirku.

“Aufa sebentar yaa… Mas mau cuci punya Mas dulu yaa… bau nih soalnya”, sahutku tanpa kupedulikan dirinya lagi, aku segera ngibrit ke belakang, batang penisku yang sedang “ON” tegang itu jadi terpontang-panting sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ke sana ke mari ketika aku berlari.

Aku geli sendiri sekaligus tak sabar ingin segera kembali ke hadapannya lagi. Dalam kamar mandi segera kubasahi rudal patriotku dengan air dingin. Wiihh… dingin saat kepala rudalku kusiram air dari cebok, lalu kuambil sabun Claudia mengandung hand body yang masih baru kubuka tadi pagi dan kusabuni batang penisku sampai bersih mulai dari 2 butir telurku sampai kepala penisku yang semakin tambah ereksi saja.

Teng… teng… teng rasanya aliran darah yang mengalir makin banyak ke batang penisku. Aduuh… maak, geli-geli nikmat saat air yang bercampur sabun itu kuusapkan dan kukocok-kocokkan ke batang penisku itu.

Ngeres pikirku, dan aku mulai membayangkan sebentar lagi batang penisku yang masih perjaka ini akan berjuang untuk menembus liang vagina milik Aufa yang sempit dan hangat, merobek selaput dara keperawanannya dan bersarang di dalam vaginanya lalu kugesekkan keluar masuk sampai penisku ejakulasi dan memuntahkan air mani sepuasnya, aahh nikmatnya.

Apalagi aku yakin selama satu minggu ini aku tak ber-onani-keke. Waah.. bisa muncrat banyak sekali nih, mm.. teng… teng…teng, batang penisku bergerak naik turun sendiri. Lho… aku geli sendiri melihatnya. Lalu segera kubasuh lagi rudal patriotku dengan air sampai bersih, dan sebelum kubasuh sempat pula kucukur beberapa helai rambut kemaluanku dengan Gillette biar agak lebih ganteng sedikit, sebab aku khawatir Aufa ogah melihat bulu kemaluanku yang amat sangar saking lebatnya.

Lagian kalau bulu kemaluanku sedikit kanlebih asyik waktu merasakan jepitan liang vagina milik Aufa nantinya. Aku ngibrit keluar dari kamar mandi sambil setengah berlari kembali ke ruang tamu. Seperti tadi batang penisku kembali terpontang-panting sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ke sanakemari.

Di ruang tamu kulihat kekasihku Aufa masih terduduk di atas sofa dan begitu melihatku keluar berlari tanpa pakai celana jadi terkejut lagi melihat batang penisku yang sedang tegang bergerak manggut-manggut naik turun.

“aawww…” teriaknya kembali sembari mulut dan mukanya ditutup lagi dengan kedua jemari tangannya. Aku tersenyum senang penuh nafsu yang ingin meledak rasanya.

Melihat tubuhnya yang masih memakai baju dan celana ketat itu aku jadi gemas kepingin segera melucutinya satu persatu sampai bugil. Aahh… aku ingin segera menyetubuhinya saja rasanya. Tapi aku berusaha menahan diri, itu tidak adil, aku ingin kami berdua harus bisa merasakan kenikmatan yang sama.

Aku tidak mau terjadi… nantinya salah satu merasa rugi. kalau aku sih pasti puass tapi bagaimana dengan Aufa? Dia pasti kesakitan nanti saat kusetubuhi karena dia masih perawan. Waah… aku harus merangsangnya dulu sampai dia orgasme sebelum kuperawani, perkara nanti saat kusetubuhi dia bisa orgasme lagi yah bagus bisa sama-sama puas.

Waahh, ini benar-benar detik-detik yang mendebarkan dan menegangkan. Satu perjaka dan satunya perawan. Sama-sama belum punya pengalaman seks selain cuma pakar di bidang film-film BF. Ingin rasanya hatiku bersorak saking nggak percayanya bahwa hari ini kesempatan emas itu telah datang tanpa kurencanakan sebelumnya.

“Iiihh… Dik Aufa… takut apa sih, kok mukanya ditutup begitu”, tanyaku geli.

“Itu Mas, punya Mas”, sahutnya lirih.

“Lhoo… katanya sudah sering nonton film BF kok masih takut, Dik Aufa kan pasti sudah lihat di film itu kalau alat vital punya cowok itu bentuknya gini, nah ini yang asli dik, the real thing sayang”, sahutku geli. Dalam hati nih cewek barangkali kepingin tahu bagaimana rasanya digampar pakai penis cowok,

“Iya… m..Mas, tapi punya Mas mm besar sekalii”, sahutnya masih sambil menutup muka.

“Yaach… ini sih kecil dik dibanding di film nggak ada apa-apanya, itu khan film barat, punya mereka jauh lebih gueedhee… kalau punya Mas kan ukuran orang Indonesia sayang, ayo sini dong punya Mas kamu pegang sayang, ini kan milik Dik Aufa juga”, sahutku nakal.

“Iiih… malu aah Mas, jorok.”

“Alaa.. malu-malu sih sayang, Mas Ari yang telanjang saja nggak malu sama kamu, masa Dik Aufa yang masih pakaian lengkap malu, ayo dong sayang punya Mas dipegang biar Dik Aufa bisa merasakan milik Dik Aufa sendiri”, sahutku sembari kuraih kedua tangannya yang masih menutupi muka, pada mulanya dia menolak sambil memalingkan wajahnya ke samping, namun setelah kurayu-rayu akhirnya mau juga kedua tangannya kubimbing ke arah selangkanganku, namun kedua matanya masih dipejamkan rapat.

Dalam hati malu-malu tapi mau, jangan-jangan kalau sudah diberi, batang penisku malah diobok-obok, Joshua kali ngobok-obok air. Jantungku berdegup kencang juga saat melakukan itu, soalnya bagaimanapun juga seumur hidup belum pernah aku telanjang di depan cewek sambil mempertontonkan alat vitalku sendiri, apalagi sampai dipegang-pegang segala.

Wheeh… seperti mimpi rasanya saat jemari kedua tangan Aufa mulai menyentuh kepala penisku yang sedang ereksi. Apalagi batang penisku masih tetap manggut-manggut nggak bisa diam, Maklumlah the first time.

Pada mulanya jemari tangannya hendak ditarik lagi saat menyentuh batang penisku yang ereksi namun karena aku memegang kedua tangannya dengan kuat, dan memaksanya untuk memegang benda kesayanganku itu, akhirnya ia hanya menurut saja saat kurayu dia agar mau melakukannya.

Pertama kali Aufa hanya mau memegang dengan kedua jemarinya yang mungil. “Aah… terus sayang pegang erat dengan kedua tanganmu dik”, rayuku penuh nafsu.

“Iiih… keras sekali Mas”, bisik Aufa sambil tetap memejamkan matanya. Wajahnya yang manis kelihatan tegang dan sedikit berkeringat.

“Iya sayang, itu tandanya Mas sedang ereksi sayang, ayo dik genggam dengan kedua tanganmu, aahh…” aku mengerang nikmat saat tiba-tiba saja Aufa bukannya malah menggenggam lagi tapi malah meremas kuat. Ia terpekik kaget.

“Iiih sakit mass…” tanyanya melihatku berteriak dan menggelinjang geli dan nikmat, remasan kedua jemari tangannya yang halus itu seolah membuat diriku kesetrum keenakan. Aufa menatapku gugup. Dan di sekitar situ aku tak melihat sehelai rambut kemaluan pun. Begitu bersih dan putih alat kelamin milik Aufa itu.

Aku hanya bisa melongo menyaksikan keindahan bukit kemaluannya dan tanpa terasa kedua tanganku sampai gemetar menyaksikan pemandangan yang baru pertama kalinya ini. “Oohh.. Aufa, indahnya…” Hanya kalimat itu yang sanggup kuucapkan saat itu, selanjutnya aku masih melongo menikmati keindahan sorga dunia milik kekasihku Aufa.

Bau yang keluar dari alat kelamin miliknya membuat hidungku jadi kembang kempis menikmati aroma aneh namun terasa menyenangkan buatku. Sesaat aku tiba-tiba mendengar suara sreek… sreeek… di atasku ketika aku mendongak ternyata kekasihku itu sedang membuka baju kaosnya, belum habis rasa kagetku setelah melemparkan kaosnya sekenanya kedua tangannya lalu menekuk ke belakang punggungnya hendak membuka BH-nya dan tesss… BH itupun terlepas jatuh di mukaku.

Puk, langsung aku jatuh terduduk dan hanya bisa melongo menyaksikan pemandangan indah yang lain. Selanjutnya Aufa melepas juga celana dan CD-nya yang masih tersangkut di mata kakinya, lalu sambil tetap berdiri di depanku mulutnya tersenyum manis kepadaku, walaupun wajahnya sedikit memerah karena malu ia berusaha untuk tetap tersenyum.

Alamak… buah dadanya itu ternyata memang berbentuk bulat seperti buah apel, besarnya kira-kira sebesar dua kali bola tenis, warnanya putih bersih hanya puting-puting kecilnya saja yang tampak berwarna merah muda kecoklatan. aah, cantiknya kekasih kecilku ini apalagi kalau sedang telanjang bulat seperti ini, aku tak menyangka tubuhnya yang sedang mekar ini sudah memiliki keindahan yang sangat sempurna. ” Aufa kamu cantik sekali sayang”, bisikku lirih.

Batang penisku semakin cenat-cenut tegang tak karuan. Lalu Aufa mengulurkan kedua tangannya kepadaku mengajakku berdiri lagi. Kini rasanya kami seperti Adam dan Hawa saja. Bertelanjang bulat satu sama lain seperti kaum nudis saja.

“Mass… Aufa sudah siap, Aufa sayang sama Mas, Aufa akan serahkan semuanya seperti yang Mas inginkan”, bisiknya mesra. Aku merangkul tubuhnya yang telanjang merasa terharu. Badanku seperti kesetrum saat kulitku menyentuh kulit halusnya yang hangat dan mulus apalagi ketika kedua payudaranya yang bulat menekan lembut dadaku yang bidang. aah… aku merintih nikmat. Jemari tanganku tergetar saat mengusap punggungnya yang telanjang, begitu halus dan mulus.

Aku tak sanggup menahan gejolak nafsuku. Setan-setan burik di belakangku seakan menggelitik batang penisku agar aku segera menyetubuhinya.

“Aahh.. Aufa kita lakukan di kamar yuk, Mas sudah kepingin begituan sayang”, bisikku tanpa malu-malu lagi. Aufa tersenyum dalam pelukanku. “Terserah Mas saja, mau melakukannya dimana”, sahutnya mesra.

Tooiinng… batang penisku langsung manggut-manggut seolah sangat setuju. Dengan penuh nafsu aku segera meraih tubuhnya dan kugendong ke dalam kamar. Saat itu aku sempat melirik jam didinding ruangan sudah setengah tiga sore.

Waah harus cepat nih, bisa kemalaman nanti. Kurebahkan tubuh Aufa yang telanjang bulat itu di atas kasur busa di dalam kamar tengah, tempat tidur itu tak terlalu besar, untuk 2 orang pun harus berdempetan.

Suasana dalam kamar kelihatan gelap karena memang aku sengaja menutup semua gorden agar tak kentara dari luar, walaupun gorden yang berada dalam kamar ini sama sekali tidak menghadap ke jalan umum namun menghadap ke kebun di belakang, jadi sebenarnya sangat aman.

Aku segera membuka gorden agar sinar matahari sore dapat masuk, dan benar saja begitu kusibakkan sinar matahari dari arah barat langsung menerangi seluruh isi kamar. Kulihat tubuh Aufa yang telanjang bulat kelihatan mengkilap karena pantulan sinar matahari namun tak sampai menyilaukan mata.

Jantungku berdegup kencang saat kunaiki ranjang dimana tubuh Aufa yang telanjang berada, ia memandangku tetap dengan senyumnya yang manis. Aku merayap ke atas tubuhnya yang bugil dan menindihnya, aku tak sabar ingin segera memasuki tubuhnya.

“Buka pahamu sayang, hh… Mas ingin menyetubuhimu sekarang”, bisikku bernafsu. Aku merasakan kehangatan saat kulitku bersentuhan dengan kulitnya yang halus mulus. Buah dadanya kelihatan sangat kencang dan bundar dengan puting-putingnya yang kemerahan sangat menawan hatiku, namun kutahan sementara keinginanku untuk menjamah buah terlarangnya itu.

“Mass…” ia hanya melenguh pasrah saat aku setengah menindih tubuhnya dan batang penisku yang tegang itu mulai menusuk celah bukit kemaluannya, mencari liang vaginanya. Kurasakan bukit kemaluannya terasa lunak dan hangat. “Aahh…” tanganku tergetar saat kubimbing alat vitalku mengelus bukit kemaluannya yang empuk lalu menelusup di antara kedua bibir kemaluannya.

“Sayang… Mas masukkan yaah… kalau sakit bilang sayang.. kamu kan masih perawan.”

“Pelan-pelan Mas ….”, bisiknya pasrah. Lalu dengan jemari tangan kananku kuarahkan kepala penisku yang sudah tak sabar ingin segera masuk dan merobek selaput daranya itu. Aufa memeluk pinggangku mesra, sementara kulihat ia memejamkan kedua matanya seolah menungguku yang akan segera memasuki tubuhnya.

Aku mencari liang vaginanya di antara belahan bukit kemaluannya yang lunak, aku tak dapat melihat celah vaginanya karena posisi tubuhku yang memang tak memungkinkan untuk itu namun aku berusaha untuk mencari sendiri.

Kucoba untuk menelusup celah bibir kemaluannya bagian atas namun setelah kutekan ternyata jalan buntu. “Agak ke bawah Mas, aahh kurang ke bawah lagi Mas… mm.. yah tekan di situ Mas… aawww pelan-pelan Mas sakiiit”, Aufa memekik kecil dan menggeliat kesakitan, namun segera kupegang pinggulnya agar jangan bergerak.

Akhirnya aku berhasil menemukan celah vaginanya itu setelah kekasihku itu menuntunku, akupun mulai menekan ke bawah, “Hhggkkghh…” kepala penisku kupaksa untuk menelusup ke dalam liang vaginanya yang sempit, terasa hangat dan sedikit basah. Kukecup bibir Aufa sekilas lalu aku berkonsentrasi kembali untuk segera dapat membenamkan batang penisku sepanjang 14 centi itu seluruhnya ke dalam liang vaginanya.

Aufa mulai merintih dan memekik-mekik kecil ketika kepala penisku yang besar mulai berhasil menerobos liang kemaluannya yang sangat-sangat sempit sekali.

“Tahan sayang… Mas masukkan lagi, hhggghh…. ahh sempit sekali sayang aahh”, erangku mulai merasakan kenikmatan dan “sssrrrtt” kurasakan kepala penisku berhasil masuk dan terjepit ketat sekali dalam liang vaginanya.

 “aawwww…. masss sakiit…” teriak Aufa memelas, tubuhnya menggeliat kesakitan. Aku berusaha menentramkannya sambil kukecup mesra bibir mungil yang basah merekah dan kulumat dengan perlahan.

“mm… cuupp… cuuppp.” Lalu, “Hhgghh… tahan sayang, baru kepalanya yang masuk sayang, Mas tekan lagi yaah”, bisikku di antara rasa pedih dan nikmat karena jepitan liang vaginanya itu begitu ketat seolah-olah kepala penisku diremas oleh sebuah daging yang sangat kuat cengkeramannya walaupun terasa hangat dan lunak.

Waah, ini harus diminyaki dulu nih pikirku, kalau aku langsung memperawaninya bisa-bisa batang penisku ikut-ikutan lecet. Akhirnya sambil menahan keinginan seks-ku yang sudah menggelora kucabut kembali alat vitalku yang baru masuk kepalanya saja itu dengan perlahan. mm… nikmatnya saat penisku menggesek celah vaginanya.

“Ah… sayang, Mas masukin nanti saja deh… hh.. liang vaginamu masih sangat sempit dan kering sayang.”

“Kemaluanku sakit Mas”, erang Aufa lirih.

“Yahh… Mas tahu sayang kamu kanmasih perawan, kita bercumbu dulu sayang, Mas kepingin melihat Dik Aufa orgasme”, bisikku bernafsu. Segera kurebahkan badanku di atas tubuhnya dan memeluknya dengan kasih sayang,

“aahh…” aku menggelinjang nikmat merasakan kehangatan dan kehalusan kulitnya, apalagi saat dadaku menekan kedua buah payudaranya yang montok rasanya begitu kenyal dan hangat, puting-puting susunya terasa sedikit keras dan lancip, mm.. mm. Kemudian kurasakan pula perut kami bersentuhan lembut dan yang paling merangsang adalah saat batang penisku yang kucabut tadi kini menekan nikmat bukit kemaluannya yang empuk.

Ingin rasanya aku mencoba untuk memasuki liang vaginanya lagi dan mengeluarkan air maniku sebanyak-banyaknya di dalam situ tapi aahh, aku tak ingin hanya diriku saja yang merasakan kenikmatan, aku ingin mencumbu kekasihku ini dulu

Mengulum bibirnya, meremas dan mengenyot-enyot kedua buah payudaranya dan terakhir akan kucumbu seluruh tubuhnya dari atas sampai ke kaki, kukecup dan kucumbu alat kelaminnya, kujilati bibir vagina dan clitorisnya sampai Aufa kekasih kecilku ini merasakan kenikmatan seks sesungguhnya dan orgasme sepuasnya. “Aufa… hh.. bagaimana perasaanmu sayang”, bisikku mesra. Ia memandangku dari jarak yang kurang dari 10 centi dan tertawa renyah.

“mm… Aufa bahagia sekali bersama Mas seperti ini, rasanya nikmat ya Mas berpelukan sambil telanjang kaya gini”, ujarnya polos.

“Iyaa sayang, anggaplah Mas suamimu saat ini sayang”, bisikku nakal.

“Iih.. Mas Ari, mm… mm.. Mas cumbui isterimu dong, beri istrimu kenik… mmbhh”, belum sempat ia selesai ngomong, aku sudah melumat bibirnya yang nakal itu, Aufa membalas ciumanku dan melumat bibirku dengan mesra.

Kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya dan Aufa langsung mengulumnya hangat, begitu sebaliknya. Semua terasa indah. Kurayapkan jemari tangan kiriku ke bawah menelusuri sambil mengusap tubuhnya mulai pundak terus ke bawah sampai ke pinggulnya yang hangat padat dan kuremas gemas,

Ketika tanganku bergerak kebelakang ke bulatan bokongnya yang bulat merangsang bersamaan dengan itu aku mulai menggoyangkan seluruh badanku menggesek tubuh Aufa yang bugil terutama pada bagian selangkangan dimana batang penisku yang sedang tegang-tegangnya menekan gundukan bukit kecil milik Aufa yang empuk, kugerakkan pinggulku secara memutar sambil kugesek-gesekkan batang penisku di permukaan bibir kemaluannya yang empuk sambil sesekali kutekan-tekan nikmat.

Aufa ikut-ikutan menggelinjang kegelian namun ia sama sekali tak menolak walaupun beberapa kali kepala penisku yang tegang salah sasaran memasuki belahan bibir kemaluan atau labia mayoranya seolah akan menembus liang vaginanya lagi. Ia hanya merintih kesakitan dan memekik kecil kalau aku salah menekan.

“Aawwww… Mas saakiit”, erangnya membuatku makin terangsang saja.

“Aahh.. Aufa… kemaluanmu empuk sekali sayang, ssshh”, aku melenguh keenakan. Setan-setan burik di belakangku semakin gila berjoget dangdut, seolah-olah bernyanyi, “Hangat terasa… terlenaa”.

Beberapa menit kemudian setelah kami puas bercumbu bibir, aku menggeser tubuhku kebawah sampai mukaku tepat berada di atas kedua bulatan payudara yang bundar bak buah apel, kini ganti perutku yang menekan bukit kemaluannya yang empuk itu, woooww enakk.

Jemari kedua tanganku secara bersamaan mulai menggerayangi gunung “Fujiyama” miliknya itu, seolah hendak mencakar kedua payudaranya kelima jemari masing-masing tanganku kurenggangkan satu sama lain dan membentuk seperti cakar burung dan aku mulai menggesekkan ujung-ujung jemariku mulai dari bawah payudaranya di atas perut terus menuju gumpalan kedua buah dadanya yang kenyal dan montok.

Aufa merintih dan menggelinjang antara geli dan nikmat. “Mass… mm… iih geli Mas”, erangnya lirih. Beberapa saat kupermainkan kedua puting-puting susunya yang kemerahan dengan ujung jemariku. Aufa menggelinjang lagi, kupuntir sedikit putingnya dengan lembut.

“mm Mas…” Aufa semakin mendesah tak karuan. Aku tak tahan, secara bersamaan akhirnya kuremas-remas gemas kedua buah dadanya dengan sepenuh nafsu.

“Aawww… Mas… nngggg”, Aufa mengerang dan kedua tangannya memegangi kain sprei dengan kuat. Aku semakin menggila tak puas kuremas lalu mulutku mulai menjilati kedua buah dadanya secara bergantian.

Lidahku kujulur-julurkan menjilati seluruh permukaan susunya itu sampai basah, mulai dari payudara yang kiri lalu berpindah ke payudaranya yang kanan, kugigit-gigit puting-puting susunya secara bergantian sambil kuremas-remas dengan gemas sampai Aufa berteriak-teriak kesakitan.

“Maass…. ssshh… shh… oohh…. oouwww… masss”, erangnya. Lima menit kemudian lidahku bukan saja menjilati kini mulutku mulai beraksi menghisap kedua puting-puting susunya sekuat-kuatnya. Aku tak peduli Aufa menjerit dan menggeliat kesana-kemari

Sesekali kedua jemari tangannya memegang dan meremasi rambut kepalaku yang bergerak liar, sementara kedua tanganku tetap mencengkeram dan meremasi kedua buah dadanya bergantian sambil kuhisap-hisap dengan penuh rasa nikmat.

Bibir dan lidahku dengan sangat rakus mengecup, mengulum dan menghisap kedua payudaranya yang kenyal dan padat. Di dalam mulut puting susunya kupilin-pilin dengan lidahku sambil terus menghisap sampai pipiku terasa kempot, aku menghayal meminum air susunya.

Aufa hanya bisa mendesis, mengerang, dan beberapa kali memekik kuat ketika gigiku menggigiti putingnya dengan gemas, hingga tak heran kalau di beberapa tempat di kedua bulatan susu-susunya itu nampak berwarna kemerahan bekas hisapan dan garis-garis kecil bekas gigitanku.

Mm… mm… ini benar-benar nikmat, susu asli cap Nona pikirku dalam hati. Cukup lama sekali aku menetek susunya, mungkin sekitar 15 menit, sampai setelah cukup puas bibir dan lidahku kini merayap menurun ke bawah.

Kutinggalkan kedua belah payudaranya yang basah dan penuh dengan lukisan bekas gigitanku dan juga cupangan berwarna merah bekas hisapanku, sangat kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih. Ketika lidahku bermain di atas pusarnya,

Aufa mulai mengerang-erang kecil keenakan, bau tubuhnya yang harum bercampur dengan keringatnya yang kas menambah nafsu seks-ku semakin memuncak, kukecup dan kubasahi seluruh perutnya yang kecil sampai basah.

Ketika aku bergeser ke bawah lagi dengan cepat lidah dan bibirku yang tak pernah lepas dari kulit tubuhnya itu telah berada di atas gundukan bukit kemaluannya yang indah mempesona. “Buka pahamu Din..” teriakku tak sabar, posisi pahanya yang kurang membuka itu membuatku kurang leluasa untuk mencumbu alat kelaminnya itu. “Oooh… masss”, Aufa hanya merintih lirih, kelihatannya dia sudah lemas kupermainkan sejak tadi, tapi aku tahu dia belum orgasme walaupun sudah sangat terangsang semenjak kuhisap kedua buah dadanya.

Sekarang ini aku ingin merasakan kelezatan cairan kewanitaan dari liang vaginanya, sebab pernah sohibku bilang terus terang kepadaku kalau ia sangat ketagihan untuk selalu meminum cairan lendir pacarnya ketika mereka sedang melakukan oral seks, katanya rasanya aneh tapi membuat dirinya bergairah.

Aku membetulkan posisiku di atas selangkangan kekasihku. Aufa membuka ke dua belah pahanya lebar-lebar, ia sudah sangat terangsang sekali. Kini wajahnya yang manis kelihatan kusut dan rambutnya tampak awut-awutan. Kedua matanya tetap terpejam rapat namum bibirnya kelihatan basah merekah indah sekali. Kedua tangannya juga masih tetap memegangi kain sprei, kelihatannya dia tegang sekali.

“Sayang… jangan tegang begitu dong sayang”, kataku mesra.

“Lampiaskan saja perasaanmu, jangan takut kalau Dik Aufa merasa nikmat, teriak saja sayang biar puass….” kataku selanjutnya. Sambil tetap memejamkan mata ia berkata lirih.

“I… iya mass eenaak sih mass”, katanya polos. Aku tersenyum senang,

“Sebentar lagi kau akan merasakan kenikmatan yang luar biasa sayang”, bisikku dalam hati, dan setelah itu aku akan merenggut kegadisanmu dan menyetubuhimu sepuasnya.

Kupandangi beberapa saat keindahan bentuk alat kelaminnya itu, baru pertama kali ini aku menyaksikan alat kelamin wanita. Ternyata di samping baunya sangat khas dan merangsang hidungku, keringat yang membasahi di sekitar selangkangannya pun berbau harum dan khas.

Dari yang sering aku lihat di VCD ataupun di majalah, bentuk alat kelamin milik Aufa ini termasuk masih Fresh, maksudnya di samping masih belum ditumbuhi sehelai rambutpun namun juga kulit di bibir vagina dan di sekitar alat kelaminnya itu tidak tampak keriput sedikitpun, masih kelihatan halus dan kencang.

Labia mayoranya kelihatan gemuk dan padat berwarna putih sedikit kecoklatan, sedangkan celah sempit yang berada di antara kedua labia mayoranya itu tertutup rapat sehingga aku tidak bisa melihat lubang vaginanya sama sekali.

Benar-benar gadis perawan asli pikirku bangga. Aahh, betapa nikmatnya nanti saat celah kemaluan dan liang vaginanya menjepit batang penisku, akan kutumpahkan sebanyak-banyaknya nanti air maniku ke dalam liangnya sebagai tanda hilangnya keperjakaanku.

Aku juga ingin nantinya Aufa bisa merasakan semprotan air maniku yang hangat dan banyak agar ia dapat pula merasakan kenikmatan yang sedang kurasakan. Cukup lama aku melamun sambil memandangi keindahan alat kelaminnya sembari menikmati aroma khas yang keluar dari celah vaginanya yang rapat, saat tiba-tiba Aufa berbisik lirih menyadarkanku.

“Mas… ngapain sih kok ngelamun, bau yaa Mas?” tanyanya sambil tersenyum manis. Wajahnya walaupun sedikit kusut berkeringat tapi tetap manis sekali.

“Nnngghh… abisnya punyamu lucu sih, bau lagi”, balasku nakal.

“Iiihh… jahat”, Belum habis berkata begitu tangan Aufa bergerak memegang kepalaku dan mengucek-ucek rambut kepalaku. Aku tertawa geli. Selanjutnya tanpa kuduga kedua tangannya itu menekan kepalaku ke bawah, sontak mukaku terutama hidung dan bibirku langsung nyosor menekan bukit kemaluannya, “mffmffphh…” hidungku menyelip di antara kedua bibir kemaluannya, empuk dan hangat.

Kuhirup sepuas-puasnya bau alat kelaminnya penuh perasaan, sementara bibirku mengecup bagian bawah labia mayoranya dengan bernafsu. Kuputar kepalaku sekitar 40 derajat, sementara jemari kedua tanganku merayap ke balik pahanya dan meremas bokongnya yang bundar dengan gemas.

Aku mulai mencumbui bibir kemaluannya yang tebal itu secara bergantian seperti kalau aku mencium bibir Aufa. Puas mengecup dan mengulum bibir bagian atas, aku berpindah untuk mengecup dan mengulum bibir kemaluannya bagian bawah.

Rasanya, mm ada sedikit manis dan asin bercampur bau vaginanya yang memabukan, pokoknya dari Sabang sampai Merauke sudah nggak bisa diungkapkan.

Nggak heran karena ulahku Aufa sampai menjerit-jerit karena nikmatnya, tubuhnya menggeliat hebat dan terkadang meregang kencang, beberapa kali kedua pahanya sampai menjepit kepalaku yang lagi asyik masyuk bercumbu dengan bibir kemaluannya.

Kupegangi kedua belah bokongnya yang sudah berkeringat agar tidak bergerak terlalu banyak, bagaimanapun juga aku tak rela melepaskan pagutan bibirku pada labia mayoranya yang merangsang. Salah sendiri pikirku siapa dulu yang mulai.

“mm.. masss… aauuuwwww… auuuwwww… aawwww… hggghhkkhh… mass… aduuh…. enaak masss… aahh aduhh… oouuhh”, Aufa mengerang-erang dan tak jarang memekik cukup kuat saking nikmatnya. Kedua tangannya bergerak meremasi rambut kepalaku sampai kacau, sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya yang seksi.

Kadang pantatnya Aufaikkannya sambil mengejan nikmat atau kadang digoyangkan memutar seirama dengan jilatan lidahku pada seluruh permukaan alat kelaminnya yang montok itu. “Masss… oouhh… yaahh… yaahah… mass huhuhu.. huhu…”

Aufa berteriak makin keras, dan terkadang seperti orang menangis mungkin saking tak kuatnya menahan kenikmatan yang kuciptakan pada alat kelaminnya. Tubuhnya menggeliat hebat dan kulihat sambil mulutku tetap memagut bibir kemaluannya, kepala kekasihku dipalingkan ke kiri dan ke kanan dengan cepat, mulutnya mendesis dan mengerang tak karuan.

Aku semakin bersemangat melihat tingkahnya, sebentar lagi Aufa pasti orgasme, kini mulutku semakin buas, dengan nafas setengah memburu kusibakkan bibir kemaluannya yang menawan dengan jemari tangan kananku, mm.. hangat dan empuk, kini kulihat daging berwarna merah muda yang basah oleh air liurku bercampur dengan cairan lendir kewanitaannya

Agak sebelah bawah dagingnya itu barulah aku dapat melihat celah liang vaginanya yang amat sangat kecil dan berwarna kemerahan pula, aku mencoba untuk membuka bibir kemaluan Aufa agak lebar agar aku dapat mengintip ke dalam liang vagina mungilnya bagaimana bentuk selaput daranya, namun Aufa tiba-tiba memekik kecil ternyata aku terlalu lebar menyibakkan bibir kemaluannya itu sehingga ia mengerang kesakitan.

“aawww… iiih… mass.. sakiit”, pekiknya kesakitan. Aku jadi terkejut dan menyesal. “Eeeh… maaf sayang, sakit yaa…” bisikku khawatir. Kuusap dengan lembut penuh kemesraan bibir kemaluannya agar sakitnya hilang, sebentar kemudian lalu kusibakkan kembali pelan-pelan bibir nakalnya itu

Celah merahnya kembali terlihat, agak ke atas dari liang vaginanya yang sempit itu aku melihat ada tonjolan daging kecil sebesar kacang hijau yang juga berwarna kemerahan, inilah clitorisnya bagian paling sensitif dari alat kelamin wanita.

Mmm… ini dia biang kenikmatan bagiperempuan pikirku, lalu secepat kilat dengan rakus lidahku kujulurkan sekuatnya keluar dan mulai menyentil-nyentil daging clitorisnya. Benar saja karena tiba-tiba Aufa memekik sangat keras sambil menyentak-nyentakkan kedua kakinya ke bawah.

Aufa mengejan hebat, aku sampai kaget dibuatnya karena pinggulnya bergerak liar dan kaku, jilatanku pada clitorisnya jadi luput. Dengan gemas aku memegang kuat-kuat kedua belah pahanya yang putih mulus lalu kembali kutempelkan bibir dan hidungku di atas celah kedua bibir kemaluannya

Kujulurkan lidahku keluar sepanjang mungkin lalu kutelusupkan lidahku menembus jepitan bibir kemaluannya dan kembali menyentil nikmat clitorisnya dan, “Hgghggh… hghghghgh… shshhsh….” Aufa memekik tertahan dan mendesis panjang tubuhnya kembali mengejan sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya yang kecil

Pantatnya diangkat ke atas sehingga memberi keuntungan bagiku untuk lebih dalam memasuki celah labia mayoranya menyentil-nyentil clitorisnya. Begitu singkat karena tak sampai 1 menit tiba-tiba kudengar Aufa terisak menangis dan kurasakan di dalam mulutku terasa ada semburan lemah dari dalam liang vaginanya berupa cairan hangat agak kental banyak sekali.

Aku menyentil clitorisnya beberapa saat sampai kurasakan tubuh Aufa mulai terkulai lemah dan akhirnya pantatnya pun jatuh kembali ke kasur.

Aufa melenguh panjang pendek meresapi kenikmatan yang baru ia rasakan, kenikmatan sorga dunia miliknya, sementara aku masih menyedot sisa-sisa lendir yang keluar hasil orgasmenya yang terasa asin manis dari celah kemaluannya yang kini tampak agak memerah.

Seluruh selangkangannya itu tampak basah penuh air liur bercampur lendir yang kental. mm… mm… aku menjilati seluruh permukaan bukit kemaluannya sampai agak kering, cairan lendirnya itu membuatku semakin bergairah.

 Perasaanku benar-benar fresh setelah menghirup dan menelan cairan lendir vaginanya. Aku tak tahu apa memang cairannya itu mengandung vitamin atau obat perangsang, masa bodoh yang jelas kini nafsu seks-ku telah memuncak, aku akan melakukan tugasku sebagai seorang laki-laki.

“Sayaang… puas kan…” bisikku lembut namun Aufa sama sekali tak menjawab, matanya terpejam rapat namun mulutnya kelihatan tersenyum bahagia.

“Giliranku sayang, Mas mau masuk nih… tahan sakitnya sayang”, bisikku lagi tanpa menunggu jawabannya.

Aku segera bangkit dan duduk setengah berlutut di atas tubuhnya yang telanjang berkeringat. Buah dadanya yang penuh lukisan hasil karyaku kelihatan turun naik mengatur napas. Sebodoh pikirku, dengan agak kasar kutarik kakinya ke atas dan kutumpangkan kedua pahanya pada pangkal pahaku sendiri sehingga kini selangkangannya menjadi terbuka lebar mempertontonkan alat kewanitaannya yang merangsang itu.

Kutarik bokongnya ke arahku sehingga batang penisku yang sudah sengsara cukup lama hampir 1 jam itu langsung menempel di atas bukit kemaluan milik Aufa yang masih basah. Kuusap-usapkan kepala penisku pada kedua belah bibir kemaluannya yang lunak dan lalu beberapa saat kemudian dengan nakal batang penisku kutepuk-tepukkan dengan gemas ke alat kelamin Aufa.

Puk… puk… puk… puk… puk… Aufa menggeliat manja dan tertawa kecil, dirinya sudah kembali normal setelah dengan susah payah ia mendaki puncak kenikmatan.

“Mas… iiih.. gelii.. aah”, jeritnya manja. Giginya yang putih kelihatan cerah, secerah wajah manisnya yang kembali bersinar lagi.

“Sayaang, penis Mas mau masuk nih… tahan yaa sakitnya”, bisikku nakal penuh nafsu.

“Iiihh… jangan kasar ya mass… pelan-pelan saja masukinnya, Aufa takut sakiit”, sahut Aufa polos penuh kepasrahan.

Aku jadi terharu mendengarnya, aku jadi tak tega untuk merenggut kegadisannya tapi sayang batang penisku ini tak bisa diajak kompromi. Aku kasihan pada milikku yang sudah sengsara sejak seminggu lalu belum juga kulampiaskan.

Ah, sebodoh. Sedikit kusibakkan bibir kemaluan miliknya dengan jemari kiriku, lalu ku arahkan kepala penisku yang besar ke liang vaginanya yang sempit, teng… teng… teng.. batang penisku semakin tegang melihat liang vaginanya itu.

Aku mulai menekan dan Aufa pun meringis, aku tekan lagi… akhirnya perlahan-lahan mili demi mili liang vaginanya itu membesar dan mulai menerima kehadiran kepala penisku. Aufa menggigit bibir. Kulepaskan jemari tanganku dari bibir kemaluannya dan plekk… bibir kemaluannya langsung menjepit nikmat kepala penisku.

“Tahan sayang…” bisikku bernafsu. Aufa hanya mengangguk pelan, matanya lalu dipejamkan rapat-rapat dan kedua tangannya kembali memegangi kain sprei. Agak kubungkukkan badanku ke depan agar pantatku bisa lebih leluasa untuk menekan ke bawah.

“Heekkgh…” aku menahan napas sambil memajukan pinggulku dan sssrrrtt… crrkk… akhirnya kepala penisku mulai tenggelam di dalam liang vaginanya. Wow, nikmatnya saat liang vaginanya menjepit kepala rudalku

Daging vaginanya terasa hangat dan agak licin, namun cengkeramannya begitu kuat seakan-akan kepala penisku seperti diremas-remas saja, kulihat urat-urat batang kemaluanku makin menonjol keluar saking banyaknya darah yang mengalir ke situ, aku kembali menekan,

“hhgghgggghh”, dan Aufa mulai menjerit kesakitan, aku tak peduli, mili demi mili batang penisku secara pasti terus melesak ke dalam liang vaginanya dan tiba-tiba setelah masuk sekitar 4 centi seperti ada selaput lunak yang menghalangi kepala penisku untuk terus masuk, aku terus menekan dan “tesss” aku merasa seperti ada yang robek, bersamaan dengan itu Aufa melengking keras sekali lalu menangis terisak-isak.

“aauuwwww… huk.. huk… huu… huu”, Wah selaput daranya robek nih pikirku, sebentar lagi pasti keluar darah, namun aku tak begitu peduli karena aku terus menekan, “Hgggghhgghgh…” batang penisku dengan ngotot terus memaksa memasuki liang vagina milik Aufa yang luar biasa sempit itu.

Kulihat bibir kemaluannya mekar semakin besar, kulihat betapa ketatnya liang kemaluannya itu menjepit batang penisku yang sudah masuk sekitar 6 centi,

“Aagghh..” aku menahan rasa nikmat jepitan vaginanya. Kupegang pinggul Aufa yang seksi mungil, dan kutarik kearahku “srrrtt… crrkrtt…” batang penisku masuk makin ke dalam, “Ooouhh”, nikmatnya setengah mati.

Aufa terus menangis terisak-isak kesakitan, sementara aku sendiri malah merem melek keenakan. Aku harus cepat, kalau tidak Aufa kekasihku terlalu lama menderita, kupegang pinggul Aufa lebih erat lalu aku mengambil nafas dan ancang-ancang, ini harus segera dibenamkan seluruhnya.

Dan, “hhghgghghk…” aku menghentak keras ke bawah, “Sssrt ccrrtt… crrtt…” dengan cepat batang penisku mendesak masuk liang vagina Aufa, “Waahhghh…” aku mengerang nikmat hampir saja air maniku muncrat saking kuatnya gesekan dan jepitan vagina milik si Aufa ini.

“Oouughhgh…” aku mengatur nafas agar air maniku nggak keburu muncrat, kulihat tinggal sedikit kira-kira 3 centi yang belum masuk. Kuhentakkan lagi pantatku ke bawah dan “Crrreet.. set..” akhirnya batang penisku sepanjang 14 centi secara sempurna telah tenggelam sampai kandas terjepit di antara bibir kemaluan dan liang vaginanya.

“Oooggghh…” aku berteriak keras saking nikmatnya, mataku mendelik menahan jepitan ketat vagina Aufa yang luar biasa. Sementara Aufa hanya memekik kecil lalu memandangku sayu. Bibirnya tergetar namun ia mencoba untuk tersenyum kepadaku.

Wajahnya yang manis menatap sayu kepadaku. “Mass… Aufa sudah nggak perawan lagi sekarang”, bisiknya lirih sambil tersenyum. Akupun begitu, aku menatap bangga kekasihku itu, ia rela mengorbankan keperawanannya demi aku yang baru dikenalnya kurang dari satu minggu. “Aufa sayang, Mas sekarang juga nggak perjaka lagi”, balasku mesra. Kami sama-sama tersenyum.

Kurebahkan badanku di atas tubuhnya yang telanjang, aku memeluknya penuh kasih sayang, payudaranya kembali menekan dadaku, nikmat. Tubuh kami telah menyatu, dalam suatu persetubuhan indah.

Kurasakan vagina Aufa menjepit dan meremas kuat batang penisku yang sudah amblas semuanya. Kami saling berpandangan mesra, kuusap mesra wajahnya yang masih menahan sakit menerima tusukan alat vitalku.

Setan-setan burik di belakangku seolah memproklamirkan kemerdekaannya. “Mas… bagaimana rasanya”, bisik Aufa mulai mesra kembali, walaupun sesekali kadang ia menggigit bibir menahan sakit.

“Enaak sayang.. dan nikmaat… oouhh Mas nggak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata sayang… selangit pokoknya”, bisikku. Ia tersenyum senang dan mencubit pipiku. Kukecup mesra hidungnya yang bangir.

“Mass… bagaimana kalau Aufa sampai hamil?” bisiknya sambil tetap tersenyum.

“Oke… nanti setelah bersetubuh kita cari obat di apotik, obat anti hamil”, bisikku gemas.

“Iihh… nakal…” sahutnya sambil kembali mencubit pipiku.

“Biariin…”

“Maasss…” Aufa agak berteriak.

“Apaan sih…” tanyaku kaget. Lalu sambil agak bersemu merah pipinya ia berkata lirih.

“Goyaang dong…” bisiknya hampir tak terdengar.

“Iiih Dik Aufa kebanyakan nonton film porno, kan itunya masih sakiit”, jawabku sekenanya.

“Pokoknya, goyang dong Mas…” sahutnya manja. Aku mencium bibirnya dengan bernafsu, dan iapun membalas dengan tak kalah bernafsu. Kami saling berpagutan lama sekali lalu sambil tetap begitu aku mulai menggoyang pinggul naik turun.

Batang penisku mulai menggesek liang vaginanya dengan kasar, “ccrrrtt.. crrttt…” pinggulku menghunjam-hunjam dengan cepat mengeluar masukkan batang penisku yang tegang. Aufa memeluk punggungku dengan kuat, ujung jemari tangannya menekan punggungku dengan keras.

Kukunya terasa menembus kulitku. Tapi aku tak peduli, aku sedang menyetubuhi dan menikmati tubuhnya. Batang penisku seakan dibetot dan disedot oleh liang vaginanya yang benar-benar super sempit itu.

Aufa merintih dan memekik kesakitan dalam cumbuanku. Beberapa kali malah ia sempat menggigit bibirku, namun itupun aku tak peduli. Aku hanya merasakan betapa liang vaginanya yang hangat dan lembut itu menjepit sangat ketat batang penisku, seakan mengenyot nikmat, ketika kutarik keluar terasa daging vaginanya seolah mencengkeram kuat alat vitalku, sehingga betapa aku memaksa untuk keluar daging vaginanya terasa ikut keluar.

“Aggghh…” nikmatnya luar biasa sekali, aku sampai mendesis panjang saking nikmatnya. Aku mengira tak lebih dari 2 centi saja batang penisku yang bergerak keluar masuk menggesek liang vaginanya, itupun susahnya setengah mati, walaupun sangat nikmat. Aufa melepaskan ciumannya dan mencubit pinggangku sakit sekali.

“Awww… aduuh Mass… sakit Masss… aduuhh… ngilu Mas…. iiihh…” ia berteriak kesakitan. Aku jadi kasihan melihatnya, habis enaak sih.

“Maaf sayang… Mas mainnya kasar yaah? Mas nggak tahan lagi sayang aahhgghghh”, bisikku sambil menahan rasa nikmat pada alat vitalku. Air maniku kurasakan sudah mendesak ingin muncrat keluar,

“Oouuhhggh…” air maniku mau keluar. Desahku sambil menyemprotkan air mani yang banyak di liang vaginanya. Kami pun berpelukan puas atas kejadian tersebut. Dan tanpa terasa kami ketiduran sambil berpelukan telanjang bulat karena kecapaian dalam permainan tadi, sungguh suatu kenikmatan yang tiada terkira.

Tamat.

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*