Cerita Sex Diah Masih Polos 2st | Hasrat Sex
Obat Pembesar Penis VIMAX

Cerita Sex Diah Masih Polos 2st

Alt/Text Gambar Alt/Text Gambar

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Diah Masih Polos 2st. Lalu Pak Dadi menyuruh Astri telentang di atas ranjang dan pantatnya diganjal oleh bantal sehingga dengan jelas terlihat bibir kemaluan Astri yang merah merekah menantang kejantanan Pak Dadi.

Cerita Dewasa Diah Masih Polos 2st

 Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan
Cerita Mesum Diah Masih Polos 2st

Sebelum memasukkan batang kemaluannya, Pak Dadi mengoleskan air ludahnya di permukaan bukit kemaluan Astri. Dengan kaki yang ada di pinggul Pak Dadi, Astri tersenyum melihat hasil karyanya yaitu batang kemaluan suaminya tercinta telah mampu bangkit dan siap bertempur.

Dengan perlahan batang kemaluan Pak Dadi dimasukkan ke dalam liang kemaluan Astri, terlihat Astri merintih saat merasakan kenikmatan yang tiada tara, kepala Astri dibolak-balikkan tanpa arah dan tangannya terus meraba-raba dada Pak Dadi dan sekali-kali meraba buah dadanya.

Memang beradunya batang kemaluan Pak Dadi dengan liang senggama Astri terasa cukup lancar karena ukurannya sudah pas dan kegiatan itu sering dilakukannya. Erangan-erangan Astri dan Pak Dadi membuat tubuh Nanang semakin Panas dingin, entah sudah berapa menit lamanya Tante Rani memainkan kemaluan Nanang yang sudah menegang, ia tersenyum ketika tahu bahwa di belakangnya ada orang yang sedang memegang kemaluannya.

“Tante, kapan Tante datang”, suara Nanang perlahan karena takut ketahuan oleh Pak Dadi sambil berusaha menjauh dari tempat tidur Pak Dadi. Tangan Tante Rani terus menggandeng Nanang menuju ruang tengah sambil tangannya menyusup pada kemaluan Nanang yang sudah menegang sejak tadi.

Sesampainya di ruang tengah, Nanang duduk di tempat yang tadi diduduki Tante Rani, sementara Tante Rani tiduran telentang sambil kepalanya ada seputar pangkal paha Nanang dengan posisi pipi kanannya menyentuh batang kemaluan Nanang yang sudah menegang.

“Kamu kok orang yang sedang begituan kamu intip, nanti kamu jadi panas dingin dan kalau sudah panas dingin susah untuk mengobatinya. Untung saja kamu tadi tidak ketahuan oleh Pak Dadi kalau kamu ketahuan kamu kan jadi malu.

Apalagi kalau ketahuan sama Oommu bisa-bisa Tante ini, juga kena marah.” Tante Rani memberikan nasehat-nasehat yang bijak sambil kepalanya yang ada diantara kedua selangkangan Nanang terus digesek-gesek ke batang kemaluan Nanang.

“Tante tahu kamu sekarang sudah besar dan kamu juga tahu tentang kehidupan seks. Tapi kamu pura-pura tidak mau,” goda Tante Rani,

“Dan kamu sudah tahu keinginan Tantemu ini, kamu malah mengintip kemesraan Pak Dadi,” nasehat-nasehat itu terus terlontar dari bibir yang merah merekah, dilain pihak pipi kirinya digesek-gesekkan pada batang kemaluan Nanang.

Nanang semakin tidak dapat lagi menahan gejolak yang sangat tinggi dengan tekanan voltage yang berada diluar batas kemanusiaan.

“Tante jangan gitu dong, nanti saya jadi malu sama Tante apalagi nanti kalau oom sampai tahu.” Mendengar elakan Nanang, Tante Rani malah tersenyum, “Dari mana Oommu tahu kalau kamu tidak memberitahunya.”

Gila, dalam pikiraanku mana mungkin aku memberitahu Oomku. Gerakan kepala Tante Rani semakin menjadi ditambah lagi kaki kirinya diangkat sehingga daster yang menutupi kakinya tersingkap dan gundukan hitam yang terawat dengan bersih terlihat merekah.

Bukit kemaluan Tante Rani terlihat dengan jelas dengan ditumbuhi bulu-bulu yang sudah dicukur rapi sehingga terlihat seperti kemaluan gadis seumur Diah.

Nanang sebetulnya sudah tahu akan keinginan Tante Rani. Tapi batinnya mengatakan bahwa dia tidak berhak untuk melakukannya dengan tantenya yang selama ini baik dan selalu memberikan kebutuhan hidupnya.

Tanpa disadari tantenya sudah menaikkan celana pendeknya yang longgar sehingga kepala batang kemaluan Nanang terangkat dengan bebas dan menyentuh pipi kirinya yang lebut dan putih itu. Melihat Keberhasilanya itu Tante Rani membalikkan badan dan sekarang Tante Rani telungkup di atas sofa dengan kemaluannya yang merekah segaja diganjal oleh bantal sofa.

Tangan Tante Rani terus memainkan batang kemaluan Nanang dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. “Aduh punya kamu ternyata besar juga,” bisik Tante Rani mesra sambil terus memainkan batang kejantanan Nanang dengan kedua tangannya.

“Masa kamu tega sama Tante dengan tidak memberikan reaksi apa pun Riee,” bisik Tante Rani dengan nafas yang berat. Mendengar ejekan itu hati Nanang semakin berontak dan rasanya ingin menelan tubuh molek di depannya bulat-bulat dan membuktikan pada tantenya itu bahwa saya sebetulnya bisa lebih mampu dari Pak Dadi.

Mulut Tante Rani yang merekah telah mengulum batang kemaluan Nanang dengan liarnya dan terlihat badan Tante Rani seperti orang yang tersengat setrum ribuan volt.

“Ayoo doong Riee, masa kamu akan menyiksa Tante dengan begini… ayo dong gerakin tanganmu.

” Kata-kata itu terlontar sebanyak tiga kali. Sehingga tangan Nanang semakin berani menyentuh pantatnya yang terbuka. Dengan sedikit malu-malu tapi ingin karena sudah sejak tadi batang kemaluan Ari menegang. Nanang mulai meraba-saba pantatnya dengan penuh kasih sayang.

Mendapakan perlakuan seperti itu, Tante Rani terus semakin menggila dan terus mengulum kepuyaan Nanang dengan penuh nafsu yang sudah lama dipendam. Sedotan bibir Tante Rani yang merekah itu seperti mencari sesuatu di dalam batang kemaluan Nanang.

Mendapat serangan yang sangat berapi-api itu akhirnya Nanang memutar kaki kirinya ke atas sehingga posisi Nanang dan tantenya seperti huruf T.

Tangan Nanang semakin berani mengusap-usap pinggul tantenya yang tersingkap dengan jelas. Daster tantenya yang sudah berada di atas pinggulnya dan kemaluan tantenya dengan lincah menjepit bantal kecil sofa itu.

“Ahkkk, nikmat..” Tantenya mengerang sambil terus merapatkan bibir kemaluannya ke bantal kecil itu sambil menghentikan sementara waktu kulumannya. Ketika ia merasakan akan orgasme.

“Nanang… Tante sudah tidak tahan lagi nich..” diiringi dengan sedotan yang dilakukan oleh tantenya itu karena tantenya ternyata sangat mahir dalam mengulum batang kemaluannya sementara tangannya dengan aktif mempermainkan sisi-sisi batang kemaluan Nanang sehingga Nanang dibuatnya tidak berdaya.

“Aduh . aduh.. Tante nikmat sekalii…” erang tantenya semakin menjadi-jadi. Hampir tiga kali Tante Rani merintih sambil mengerang. “Aduuh Rieee.. terus tekan-tekan pantat Tante..” desah Tante Rani sambil terus menggesek-gesekkan bibir kemaluannya ke bantal kecil itu.

Nanang meraba kemaluan tantenya, ternyata kemaluan Tante Rani sudah basah oleh cairan-cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.

“Nanange… nah itu terus Riee.. terus..” erang Tante Rani sambil tidak henti-hentinya mengulum batang kemaluan Nanang.

“Kamu kok kuat sekali Riee,” bisik tante rRni dengan nafas yang terengah-engah sambil terus mengulum batang kemaluan Nanang. Tante Rani setengah tidak percaya dengan kuluman yang dilakukannya karena belum mampu membuat Nanang keluar sperma.

Nanang berguman, “Belum tahu dia, ini belum seberapa. Tante pasti sudah keluar lebih dari empat kali terbukti dengan bantal yang digunakan untuk mengganjal liang kewanitaannya basah dengan cairan yang keluar seperti air hujan yang sangat deras.”

Melihat batang kemaluan Nanang yang masih tegak Tante Rani semakin bernafsu, ia langsung bangkit dari posisi telungkup dengan berdiri sambil berusaha membuka baju Nanang yang masih melekat di badannya.

“Buka yaa Sayang bajunya,” pinta Tante Rani sambil membuka baju Nanang perlahan namun pasti. Setelah baju Nanang terbuka, Tante Rani membuka juga celana pendek Nanang agar posisinya tidak terganggu.

Lalu Tante Rani membuka dasternya dengan kedua tangannya, ia sengaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di depan Nanang. Melihat dua gunung yang telah merekah oleh gesekan sofa dan liang kewanitaan tantenya yang merah ranum akibat gesekan bantal sofa, Ari menelan ludah. Ia tidak membayangkan ternyata tantenya mempunyai tubuh yang indah. Ditambah lagi ia sangat terampil dalam memainkan batang kemaluan laki-laki.

Masih dengan posisi duduk, tantenya sekarang ada di atas permadani dan ia langsung menghisap kembali batang kemaluan Nanang sambil tangannya bergantian meraba-raba sisi batang kemaluan Nanang dan terus mengulumnya seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen dengan penuh gairah.

Dengan bantuan payudaranya yang besar, Tante Rani menggesek-gesek payudaranya di belahan batang kemaluan Nanang. Dengan keadaan itu Nanang mengerang kuat sambil berkata, “Aduh Tante.. terus Tante..” Mendengar erangan Nanang, Tante Rani tersenyum dan langsung mempercepat gesekannya.

Melihat Nanang yang akan keluar, Tante Rani dengan cepat merubah posisi semula dengan mengulum batang kemaluan dengan sangat liar. Sehingga warna batang kemaluan Nanang menjadi kemerah-merahan dan di dalam batang kemaluannya ada denyutan-denyutan yang sangat tidak teratur.

Nanang menahan nikmat yang tiada tara sambil berkata, “Terus Tante.. terus Tante..”, Dan Nanang pun mendekap kepala tantenya agar masuk ke dalam batang kemaluannya dan semprotan yang maha dahsyat keluar di dalam mulut Tante Rani yang merekah.

Mendapatkan semburan lahar panas itu, Tante Rani kegirangan dan langsung menelannya dan menjilat semua yang ada di dalam batang kemaluan Nanang yang membuat Nanang meraung-raung kenikmatan. Terlihat dengan jelas tantenya memang sudah berpengalaman karena bila sperma sudah keluar dan batang kemaluan itu tetap disedotnya maka akan semakin nikmat dan semakin membuat badan menggigil.

Melihat itu Tante Rani semakin menjadi-jadi dengan terus menyedot batang kemaluan Nanang sampai keluar bunyi slurp…, slurp…, akibat sedotannya. Setelah puas menjilat sisa-sisa mani yang menempel di batang kemaluan Nanang, lalu Tante Rani kembali mengulum batang kejantanan Nanang dengan mulutnya yang seksi.

Melihat batang kemaluan Nanang yang masih memberikan perlawanan, Tante Rani bangkit sambil berkata, “Gila kamu Rieee.. kamu masih menantang tantemu ini yaah.. Tante sudah keluar hampir empat kali kamu masih menantangnya.

” Mendengar tantangan itu, Nanang hanya tersenyum saja dan terlihat Tante Rani mendekat ke hadapan Nanang sambil mengarahkan liang kewanitaannya untuk melahap batang kemaluan Nanang. Sebelum memasukkan batang kemaluan Nanang ke liang kewanitaannya, Tante Rani terlebih dahulu memberikan ciuman yang sangat mesra dan Nanang pun membalasnya dengan hangat.

Saling pagut terjadi untuk yang kedua kalinya, lidah mereka saling bersatu dan saling menyedot. Tante Rani semakin tergila-gila sehingga liang kewanitaannya yang tadinya menempel di atas batang kemaluan Nanang sekarang tergeser ke belangkang sehingga batang kemaluan Nanang tergesek-gesek oleh liang kewanitaannya yang telah basah itu.

Mendapat perlakuan itu Nanang mengerang kenikmatan. “Aduuh Tante…” sambil melepaskan pagutan yang telah berjalan cukup lama.

“Clepp…” suara yang keluar dari beradunya dua surga dunia itu, perlahan namun pasti Tante Rani mendorongnya masuk ke lembah surganya. Dorongan itu perlahan-lahan membuat seluruh urat nadi Nanang bergetar.

Mata Tante Rani dipejamkan sambil terus mendorong pantatnya ke bawah sehingga liang kewanitaan Tante Rani telah berhasil menelan semua batang kemaluan Nanang. Tante Rani pun terlihat menahan nikmat yang tiada tara.

“Nanangee…” rintihan Tante Rani semakin menjadi ketika liang senggamanya telah melahap semua batang kemaluan Nanang. Tante Rani diam untuk beberapa saat sambil menikmati batang kemaluan Nanang yang sudah terkubur di dalam liang kewanitaannya.

“Riee, Tante sudah tidak kuat lagi… Sayang..” desah Tante Rani sambil menggerakan-gerakkan pantatnya ke samping kiri dan kanan. Mulut tantenya terus mengaduh, mengomel sambil terus pantatnya digeser ke kiri dan ke kanan.

Mendapatkan permainan itu Nanang mendesir, “Aduh Tante… terus Tante..” mendengar itu Tante Rani terus menggeser-geserkan pantatnya. Di dalam liang senggama tantenya ada tarik-menarik antara batang kemaluan Nanang dan liang kewanitaan tantenya yang sangat kuat, mengikat batang kemaluan Nanang dengan liang senggama Tante Rani. Kuatnya tarikan itu dimungkinkan karena ukuran batang kemaluan Nanang jauh lebih besar bila dibandingkan dengan milik Om Budiman.

Goyangan pantatnya semakin liar dan Nanang mendekap tubuh tantenya dengan mengikuti gerakannya yang sangat liar itu. Kucuran keringat telah berhamburan dan beradunya pantat Tante Rani dengan paha Nanang menimbulkan bunyi yang sangat menggairahkan, “Prut.. prat.. pret..” Tangan Nanang merangkul tantenya dengan erat.

Pergerakan mereka semakin liar dan semakin membuat saling mengerang kenikmatan entah berapa kali Tante Rani mengucurkan cairan di dalam liang kewanitaannya yang terhalang oleh batang kemaluan Nanang.

Tante Rani mengerang kenikmatan yang tiada taranya dan puncak dari kenikmatan itu kami rasakan ketika Tante Rani berkata di dekat telingan Nanang. “Nanangee…” suara Tante Rani bergetar, “Kamu kalau mau keluar, kita keluarnya bareng-bareng yaaah”. “Iya Tante…” jawab Nanang.

Selang beberapa menit Nanang merasakan akan keluar dan tantenya mengetahui, “Kamu mau keluar yaaa.” Nanang merangkul Tante Rani dengan kuatnya tetapi kedua pantatnya masih terus menusuk-nusuk liang kewanitaan Tantenya, begitu juga dengan Tante Rani rangkulanya tidak membuat ia melupakan gigitannya terhadap batang kemaluan Nanang.

Sambil terus merapatkan rangkulan. Suara Nanang keluar dengan keras, “Tanteee.. Tanteee..” dan begitu juga Tante Rani mengerang keras, “Rieee…”. Sambil keduanya berusaha mengencangkan rangkulannya dan merapatkan batang kemaluan dan liang kewanitaannya sehingga betul-betul rapat membuat hampir biji batang kemaluan Nanang masuk ke dalam liang senggama Tante Rani.

Akhirnya Nanang dan Tante Rani diam sesaat menikmati semburan lahar panas yang beradu di dalam liang sorga Tante Rani. Masih dalam posisi Tante Rani duduk di pangkuan Nanang. Tante Rani tersenyum, “Kamu hebat Nanang seperti kuda binal dan ternyata kepunyaan kamu lebih besar dari suaminya dan sangat menggairahkan.”

“Kamu sebetulnya sudah tahu keinginan Tante dari dulu ya, tapi kamu berusaha mengelaknya yaa..” goda Tante Rani. Nanang hanya tersenyum di goda begitu. Tante Rani lalu mencium kening Nanang. Kurang lebih Lima menit batang kemaluan Nanang yang sudah mengeluarkan lahar panas bersemayam di liang kewanitaan Tante Rani, lalu Tante Rani bangkit sambil melihat batang kemaluan Nanang.

Melihat batang kemaluan Nanang yang mengecil, Tante Rani tersenyum gembira karena dalam pikirannya bila batang kemaluannya masih berdiri maka ia harus terus berusaha membuat batang kemaluan Nanang tidak berdiri lagi.

Untuk menyakinkannya itu, tangan Tante Rani meraba-raba batang kemaluan Nanang dan menijit-mijitnya dan ternyata setelah dipijit-pijit batang kemaluan Nanang tidak mau berdiri lagi.

“Aduh untung batang kemaluanmu Rieee… tidak hidup lagi,” bisik Tante Rani mesra sambil berdiri di hadapan Nanang, “Soalnya kalau masih berdiri, Tante sudah tidak kuat Rieee” lanjutnya sambil tersenyum dan Duduk di sebelah Nanang. Sesudah Tante Rani dan Nanang berpanutan mereka pun naik ke atas dan masuk kamar-masing-masing.

Pagi-pagi sekali Nanang bangun dari tempat tidur karena mungkin sudah kebiasaannya bangun pagi, meskipun badannya ingin tidur tapi matanya terus saja melek. Akhirnya Nanang jalan-jalan di taman untuk mengisi kegiatan agar badannya sedikit segar dan selanjutnya badannya dapat diajak untuk tidur kembali karena pada hari itu Nanang tidak ada kuliah.

Kebiasaan lari pagi yang sering dilakukan diwaktu pagi pada saat itu tidak dilakukannya karena badannya terasa masih lemas akibat pertarungan tadi malam dengan tantenya.

Lalu Nanang pun berjalan menuju kolam, tidak dibanyangkan sebelumnya ternyata Tante Rani ada di kolam sedang berenang. Tante Rani mengenakan celana renang warna merah dan BH warna merah pula. Melihat kedatangan Nanang.

Tante Rani mengajaknya berenang. Nanang hanya tersenyum dan berkata, “Nggak ah Tante, Saya malas ke atasnya.” Mendapat jawaban itu, Tante Rani hanya tersenyum, soalnya Tante Rani mengetahui Nanang tidak menggunakan celana renang.

“Sudahlah pakai celana dalam aja,” pinta Tante Rani. Tantenya yang terus meminta Nanang untuk berenang. Akhirnya iapun membuka baju dan celana pendeknya yang tinggal melekat hanya celana dalamnya yang berwarna biru.

Celana dalam warna biru menempel rapat menutupi batang kemaluan Nanang yang kedinginan. Loncatan yang sangat indah diperlihatkan oleh Nanang sambil mendekati Tante Rani, yang malah menjauh dan mengguyurkan air ke wajah Nanang.

Sehingga di dalam kolam renang itu Tante Rani menjadi kejaran Nanang yang ingin membalasnya. Mereka saling mengejar dan saling mencipratkan air seperti anak kecil. Karena kecapaian, akhinya Tante Rani dapat juga tertangkap. Nanang langsung memeluknya erat-erat, pelukan Nanang membuat Tante Rani tidak dapat lagi menghindar.

“Udah akh Nanang.. Tante capek,” seru mesra Tante Rani sambil membalikkan badannya. Nanang dan Tante Rani masih berada di dalam genangan kolam renang. “Kamu tidak kuliah Rieee,” tanya Tante Rani.

“Tidak,” jawab Nanang pendek sambil meraba bukit kemaluan Tante Rani. Terkena rabaan itu Tante Rani malah tersenyum sambil memberikan ciuman yang sangat cepat dan nakal lalu dengan cepatnya ia melepaskan ciuman itu dan pergi menjauhi Nanang. Mendapatkan perlakuan itu Nanang menjadi semakin menjadi bernafsu dan terus memburu tantenya. Dan pada akhirnya tantenya tertangkap juga.

“Sudah ah… Tante sekarang mau ke kantor dulu,” kata Tante Rani sambil sedikit menjauh dari Nanang.

Ketika jaraknya lebih dari satu meter Tante Rani tertawa geli melihat Nanang yang celana dalamnya telah melorot di antara kedua kakinya dengan batang kemaluannya yang sudah bangkit dari tidurnya.

“Kamu tidak sadar Nanang, celana dalammu sudah ada di bawah lutut..” Mendengar itu Nanang langsung mendekati Tante Rani sambil mendekapnya.

Tante Rani hanya tersenyum. “Kasihan kamu, adikmu sudah bangun lagi, tapi Tante tidak bisa membantumu karena Tante harus sudah pergi,” kata Tante Rani sambil meraba batang kemaluan Nanang yang sudah menegang kembali.

Mendengar itu Nanang hanya melongo kaget. “Akhh, Tante masa tidak punya waktu hanya beberapa menit saja,” kata Nanang sambil tangannya berusaha membuka celana renang Tante Rani yang berwarna merah.

Mendapat perlakuan itu Tante Rani hanya diam dan ia terus mencium Nanang sambiil berkata, “Iyaaa deh.. tapi cepat, yaa.. jangan lama-lama, nanti ketahuan orang lain bisa gawat.”

Tante Rani membuka celana renangnya dan memegangnya sambil merangkul Nanang. Batang kemaluan Nanang langsung masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Rani yang sudah dibuka lebar-lebar dengan posisi kedua kakinya menempel di pundak Nanang.

Beberapa detik kemudian, setelah liang kewanitaan Tante Rani telah melahap semua batang kemaluan Nanang dan dirasakannya batang kemaluan Nanang sudah menegang. Tante Rani menciumnya dengan cepat dan langsung mendorong Nanang sambil pergi dan terseyum manis meninggalkan Nanang yang tampak kebingungan dengan batang kemaluannya yang sedang menegang.

Mendapat perlakuan itu Nanang menjadi tambah bernafsu kepada Tante Rani, dan ia berjanji kalau ada kesempatan lagi ia akan menghabisinya sampai ia merasa kelelahan. Lalu Nanang langsung pergi meninggalkan kolam itu untuk membersihkan badannya.

Setelah di kamar, Nanang langsung membuka semua bajunya yang menjadi basah itu, ia langsung masuk kamar mandi dan menggosok badan dengan sabun. Ketika akan membersihkan badannya, air yang ada di kamar mandinya ternyata tidak berjalan seperti biasanya.

Dan langsung Nanang teringat akan keberadaan kamar Diah. Nanang lalu pergi keluar kamar dengan lilitan handuk yang menempel di tubuhnya. Wajahnya penuh dengan sabun mandi. “Diah.. Diah.. Diah..” teriak Nanang sambil mengetuk pintu kamar Diah. “Masuk Kak Nanange, tidak dikunci.” balas Diah dari dalam kamar.

Didapatinya ternyata Diah masih melilitkan badan dengan selimut dengan tangannya yang sedang asyik memainkan kemaluannya. Permainan ini baru didapatkannya ketika ia melihat adegan tadi malam antara kakaknya dengan Nanang dan kejadian itu membuat ia merasakan tentang sesuatu yang selama ini diidam-idamkan oleh setiap manusia.

“Ada apa Kak Nanang,” kata Diah sambil terus berpura-pura menutup badannya dengan selimut karena takut ketahuan bahwa dirinya sedang asyik memainkan kemaluannya yang sudah membasah sejak tadi malam karena melihat kejadiaan yang dilakukan kakaknya dengan Nanang.

“Anu Diah.. Kakak mau ikut mandi karena kamar mandi Nanang airnya tidak keluar.” Memang Diah melihat dengan jelas bahwa badan Nanang dipenuhi oleh sabun tapi yang diperhatikan Diah bukannya badan tapi Diah memperhatikan diantara selangkangannya yang kelihatan mencuat.

Iseng-iseng Diah menanyakan tentang apa yang mengganjalnya dalam lilitan handuk itu. Mendengar pertanyaan itu niat Nanang yang akan menerangkan tentang biologi ternyata langsung kesampaian dan Nanang pun langsung memperlihatkannya sambil memengang batang kemaluannya,

“Ini namanya penis.. Sayang,” kata Nanang yang langsung menuju kamar mandi karena melihat Diah menutup wajahnya dengan selimut.

Melihat batang kemaluan Nanang yang sedang menegang itu Diah membayangkan bila ia mengulumnya seperti yang dilakukan kakaknya.

Keringat dingin keluar di sekujur tubuh Diah yang membayangkan batang kemaluan Nanang dan ia ingin sekali seperti yang dilakukan oleh kakaknya juga ia melakukannya. Mata Diah terus memandang Nanang yang sedang mandi sambil tangan terus bergerak mengusap-usap kemaluannya.

Akhirnya karena Diah sudah dipuncak kenikmatan, ia mengerang akibat dari permainan tangannya itu telah berhasil dirasakannya .Dengan beraninya Diah pergi memasuki kamar mandi untuk ikut mandi bersama Nanang. Melihat kedatangan Diah ke kamar mandi, Nanang hanya tersenyum. “Kamu juga mau mandi Yun,” kata Nanang sambil mencubit pinggang Diah.

Diah yang sudah dipuncak kenikmatan itu hanya tersenyum sambil melihat batang kemaluan Nanang yang masih mengeras.

“Kak boleh nggak Diah mengelus-elus barang itu,” bisik Diah sambil menunjuknya dengan jari manisnya. Mendengar permintaan itu Nanang langsung tersenyum nakal, ternyata selama ini apa yang diidam-idamkannya akan mendapatkan hasilnya.

Dalam pikiran Nanang, Diah sekarang mungkin telah mengetahui akan kenikmatan dunia. Tanpa diperintah lagi Nanang langsung mendekatkan batang kemaluannya ke tangan Diah dan menuntun cara mengelus-elusnya. Tangan Diah yang baru pertama kali meraba kepunyaan laki-laki itu sedikit canggung, tapi ia berusaha meremasnya seperti meremas pisang dengan tenaga yang sangat kuat hingga membuat Nanang kesakitan.

“Aduh.. jangan keras-keras dong Diah, nanti batang kemaluannya patah.” Mendengar itu Diah menjadi sedikit kaget lalu Ari membatunya untuk memainkan batang kemaluannya dengan lembut.

Tangan Diah dituntunnya untuk meraba batang kemaluan Nanang dengan halus lalu batang kemaluan Nanang didekatkan ke wajah Diah agar mengulumnya. Diah hanya menatapnya tanpa tahu harus berbuat apa.

Lalu Nanang memerintahkan untuk mengulumnya seperti mengulum ice crem, atau mengulumnya seperti mengulum permen karet. Diperintah tersebut Diah langsung menurut, mula-mula ia mengulum kepala batang kemaluan Nanang lalu Diah memasukkan semua batang kemaluan Nanang ke dalam mulutnya. Tapi belum juga berapa detik Diah terbatuk-batuk karena kehabisan nafas dan mungkin juga karena nafsunya terlalu besar.

Setelah sedikit tenang, Diah mengulum lagi batang kemaluan Nanang tanpa diperintah sambil pinggul Diah bergoyang menyentuh kaki Nanang. Melihat kejadian itu Nanang akhirnya menghentikan kuluman Diah dan langsung mengangkat Diah dan membawanya ke ranjang yang ada di samping kamar mandi.

Sesampainya di pinggir ranjang, dengan hangat Diah dipeluk oleh Nanang dan Diah pun membalas pelukan Nanang. Bibir Diah yang polos tanpa liptik dicium Nanang dengan penuh kehangatan dan kelembutan.

Dicium dengan penuh kehangatan itu Diah untuk beberapa saat terdiam seperti patung tapi akhirnya naluri seksnya keluar juga, ia mengikuti apa yang dicium oleh Nanang. Bila Nanang menjulurkan lidahnya maka Diah pun sama menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Nanang.

Dengan permainan itu Diah sangat menikmatinya apalagi Nanang yang bisa dikatakan telah dilatih oleh kakaknya yang telah berpengalaman.

Kecupan Diah kadang kala keluar suara yang keras karena kehabisan nafas. “Pek.. pek..” suara bibir Diah mengeluarkan suara yang membuat Nanang semakin terangsang. Mendengar suara itu Nanang tersenyum sambil terus memagutnya.

Tangan Nanang dengan terampil telah membuka daster putih yang dipakai Diah. Dengan gerakan yang sangat halus, Nanang menuntun Diah agar duduk di pinggir ranjang dan Diah pun mengetahui keinginan Nanang itu. Bibir Diah yang telah berubah warna menjadi merah terus dipagut Nanang dengan posisi Diah tertindih oleh Nanang. Tangan Diah terus merangkul Nanang sambil bukit kemaluannya menggesek-gesekkan sekenanya.

Lalu Nanang membalikkan tubuh Diah sehingga kini Diah berada di atas tubuh Nanang, dengan perlahan tangan Nanang membuka BH putih yang masih melekat di tubuh Diah. Setelah berhasil membuka BH yang dikenakan Diah, Nanang pun membuka CD putih yang membungkus bukit kemaluan Diah dilanjutkan menggesek-gesekkan sekenanya.

Erangan panjang keluar dari mulut Diah. “Auuu…” sambil mendekap Nanang keras-keras. Melihat itu Nanang semakin bersemangat. Setelah Nanang berhasil membuka semua pakaian yang dikenakan Diah, terlihat Diah sedikit tenang iapun kembali membalikkan Diah sehingga ia sekarang berada di atas tubuh Diah.

Nanang menghentikan pagutan bibirnya ia melanjutkan pagutannya ke bukit kemaluan Diah yang telah terbuka dengan bebas. Dipandanginya bukit kemaluan Diah yang kecil tapi penuh tantangan yang baru ditumbuhi oleh bulu-bulu hitam yang kecil-kecil. Kaki Diah direnggangkan oleh Nanang. Pagutan Nanang beganti pada bibir kecil kepunyaan Diah.

Pantat Diah terangkat dengan sendirinya ketika bibir Nanang mengulum bukit kemaluan kecilnya yang telah basah oleh cairan. Harum bukit kemaluan perawan membuat batang kemaluan Nanang semakin ingin langsung masuk ke sarangnya tapi Nanang kasihan melihat Diah karena kemaluannya belum juga merekah.

Jilatan bibir Nanang yang mengenai klitoris Diah membuat Diah menjepit wajah Nanang. Semburan panas keluar dari bibir bukit kemaluan Diah. Diah hanya menggeliat dan menahan rasa nikmat yang baru pertama kali didapatkanya.

Lalu Nanang merasa yakin bahwa ini sudah waktunya, ditambah lagi batang kemaluannya yang sudah telalu lama menengang. Nanang menarik tubuh Diah agar pantatnya pas tepat di pinggir ranjang. Kaki Diah menyentuh lantai dan Nanang berdiri diantara kedua paha Diah.

Melihat kondisi tubuh Diah yang sudah tidak menggunakan apa-apa lagi ditambah dengan pemandangan bukit kemaluan Diah yang sempit tapi basah oleh cairan yang keluar dari bibir kecilnya membuat Nanang menahan nafas.

Nanang berdiri, dan batang kemaluannya yang besar itu diarahkan ke bukit kemaluan Diah. Melihat itu Diah sedikit kaget dan merasa takut Diah menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Melihat gejala itu Nanang hanya tersenyum dan ia sedikit lebih melebarkan paha Diah sehingga klitorisnya terlihat dengan jelas.

Ia menggesek-gesekkan batang kemaluannya di bibir kemaluan Diah. Sambil menggesek-gesek batang kemaluan, Nanang kembali mendekap Diah sambil membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Melihat Nanang yang membuka tangannya, Diah langsung merangkulnya dan mencium bibir Nanang. Pagutan pun kembali terjadi, bibir Diah dengan lahapnya terus memagut bibir Nanang.

Suara erangan kembali keluar lagi dari mulut Diah. “Aduhh… Kaak…” erang Diah sambil merangkul tubuh Nanang dengan keras.

Nanang meraba-raba bukit kemaluan Diah dengan batang kemaluannya setelah yakin akan lubang kemaluan Diah, Nanang mendorongnya perlahan dan ketika kepala kejantanan Nanang masuk ke liang senggama Diah. Diah mengerang kesakitan, “Kak.. aduh sakit, Kak…”

Mendengar rintihan itu, Nanang membiarkan kepala kemaluannya ada di dalam liang senggama Diah dan Nanang terus memberikan pagutannya. Kuluman bibir Diah dan Nanang pun berjalan lagi. Dada Nanang yang besar terus digesek-gesekkan ke payudara Diah yang sudah mengeras.

Diah yang menahan rasa sakit yang telah bercampur dengan rasa nikmat akhirnya mengangkat kakinya tinggi-tinggi untuk menghilangkan rasa sakit di liang senggamanya dan itu ternyata membantunya dan sekarang menjadi tambah nikmat.

Kepala kemaluan Nanang yang besar baru masuk ke liang kewanitaan Diah, tapi jepitan liang kemaluan Diah begitu keras dirasakan oleh batang kemaluan Nanang.

Sambil mencium telinga kiri Diah, Nanang kembali berusaha memasukkan batang kemaluannya ke liang senggama Diah. “Aduh.. aduh.. aduh.. Kak,” Mendengar rintihan itu Nanang berkata kepada Diah. “Kamu sakit Diah,” bisik Nanang di telinga Diah. “Nggak tahu Kaak ini bukan seperti sakit biasa, sakit tapi nikmat..”

Mendengar penjelasan itu, Nanang terus memasukkan batang kemaluannya sehingga sekarang kepala kemaluannya sudah masuk semua ke dalam liang senggama Diah. Batang kemaluan Nanang sudah masuk ke liang senggama Diah hampir setengahnya.

Batang kemaluannya sudah ditelan oleh liang kemaluan Diah, kaki Diah semakin diangkat dan tertumpang di punggung Nanang. Tiba-tiba tubuh Diah bergetar sambil merangkul Nanang dengan kuat.

“Aduhhh…” dan cairan hangat keluar dari bibir kemaluan Diah, Nanang dapat merasakan hal itu melalui kepala kemaluannya yang tertancap di bukit kemaluan Diah. Lipatan paha Diah telah terguyur oleh keringat yang keluar dari tubuh mereka berdua.

Mendapat guyuran air di dalam bukit kemaluan itu, Nanang lalu memasukkan semua batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Diah. Dengan satu kali hentakan. “Preeet…” Diah melotot menahan kesakitan yang bercampur dengan kenikmatan yang tidak mungkin didapatkan selain dengan Nanang.

“Auh.. auh.. auh..” suara itu keluar dari mulut kecil Diah setelah seluruh batang kejantanan Nanang berada di dalam lembah kenikmatan Diah. “Kak, Badan Diah sesak, sulit bernafas,” kata Diah sambil menahan rasa nikmat yang tiada taranya.

Mendengar itu lalu Nanang membalikkan tubuh Diah agar ia berada di atas Ari. Mendapatkan posisi itu Diah seperti pasrah dan tidak melakukan gerakan apapun selain mendekap tubuh Nanang sambil meraung-raung kenikmatan yang tiada taranya yang baru kali ini dirasakannya.

Diah dan Nanang terdiam kurang lebih lima menit. “Diah, sekarang bagaimana badanmu,” kata Nanang yang melihat Diah sekarang sudah mulai menggoyang-goyangkan pantatnya dengan pelan-pelan.

“Udah agak enakan Kak,” balas Diah sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Mendapatkan serangan itu Nanang langsung mengikuti gerakan goyangan itu dan goyangan Nanang dari atas ke bawah.

Lipantan-lipatan kehangatan tercipta di antara selangkangan Diah dan Nanang. Sambil menggoyangkan pantatnya, mulut Diah tetap mengaduh, “Aduhhh…” Merasakan nikmat yang telah menyebar ke seluruh badannya. Tanpa disadari sebelumnya oleh Nanang.

Diah dengan ganasnya menggoyang-gonyangkan pantatnya ke samping dan ke kiri membuat Nanang kewalahan ditambah lagi kuatnya jepitan bukit kemaluan Diah yang semakin menjepit seperti tang yang sedang mencepit paku agar paku itu putus.

Beberapa menit kemudian Nanang memeluk badan Diah dengan eratnya dan batang kemaluannya berusaha ditekan ke atas membuat pantat Diah terangkat. Semburan panas pun masuk ke bukit kemaluan Diah yang kecil itu. Mendapat semburan panas yang sangat kencang, Diah mendesis kenikmatan sambil mengeram, “Aduhh… aduh.. Kak..”

Selang beberapa menit Nanang diam sambil memeluk Diah yang masih dengan aktif menggerak-gerakkan pantatnya ke kiri dan ke kanan dengan tempo yang sangat lambat. Setelah badannya merasa sudah agak baik, Nanang membalikkan tubuh Diah sehingga sekarang tubuh Diah berada di bawah Nanang.

Batang kemaluan Nanang masih menancap keras di lembah kemaluan Diah meskipun sudah mengeluarkan sperma yang banyak. Lalu kaki Diah diangkat oleh Nanang dan disilangkan di pinggul. Nanang mengeluarkan batang kemaluannya yang ada di dalam liang senggama Diah.

Mendapat hal itu mata Diah tertutup sambil membolak-balikkan kepala ke kiri dan ke kanan lalu dengan perlahan memasukkan lagi batang kemaluannya ke dalam liang senggama Diah, turun naik batang kemaluan Nanang di dalam liang perawan Diah membuat Diah beberapa kali mengerang dan menahan rasa sakit yang bercampur dengan nikmatnya dunia.

Tarikan bukit kemaluan Diah yang tadinya kencang pelan- pelan berkurang seiring dengan berkurangnya tenaga yang terkuras habis dan selanjutnya Nanang mengerang-erang sambil memeluk tubuh Diah dan Diah pun sama mengeluarkan erangan yang begitu panjang, keduanya sedang mendapatkan kenikmatan yang tiada taranya.

Nanang mendekap Diah sambil menikmati semburan lahar panas dan keluarnya sperma dalam batang kemaluan Nanang dan Diah pun sama menikmati lahar panas yang ada dilembah kenikmatannya. Kurang lebih lima menit, Nanang memeluk Diah tanpa adanya gerakan begitu juga Diah hanya memeluk Nanang.

Dirasakan oleh Nanang bahwa batang kemaluannya mengecil di dalam liang kemaluan Diah dan setelah merasa batang kemaluannya betul-betul mengecil Nanang menjatuhkan tubuhnya di samping Diah. Nanang mencium kening Diah. Diah membalasnya dengan rintihan penyesalan, seharusnya Nanang bertanggung jawab atas hilangnya perawan yang dimiliki Diah.

Mendengar itu Nanang hanya tersenyum karena memang selama ini Nanang mendambakan istri seperti Diah ditambah lagi ia mengetahui bila hidup dengan Diah maka ia akan mendapatkan segalanya. Nanang mengucapkan selamat bobo kepada Diah yang langsung tertidur kecapaian dan Nanang langsung keluar dari kamar Diah setelah Nanang menggunakan pakaiannya kembali.

Nanang masuk ke dapur, didapatnya tantenya sedang dalam keadaan menungging mengambil sesuatu. Terlihat dengan jelas celana merah muda yang dipakai tantenya. Tante Rani dibuat kaget karena Nanang langsung meraba liang kewanitaannya yang terbungkus CD merah muda sambil menegurnya. “Tante sudah pulang,” tanya Nanang.

Sambil melepaskan rabaan tangannya di liang kewanitaan tantenya. Lalu Nanang membuka kulkas untuk mencari air putih. “Iya, Tante hanya sebentar kok. Soalnya Tante kasihan dengan burung kamu yang tadi Tante tinggalkan dalam keadaan menantang,” jawab Tante Rani sambil tersenyum.

“Bagaimana sekarang Nanang burungnya, sudah mendapatkan sarang yang baru ya..” Mendapat ejekan itu, Nanang langsung kaget.

“Ah Tante, mau cari sangkar di mana,” jawab Nanang mengelak.

“Nanang kamu jangan mengelak, Tante tau kok.. kamu sudah mendapatkan sarang yang baru jadi kamu harus bertanggung jawab. Kalau tidak kamu akan Tante laporkan sama Oom dan kedua orang tuanmu bahwa kamu telah bermain gila bersama Diah dan Tante.”

Mendengar itu, Nanang langsung diam dan ia akan menikahi Diah seperti yang dijanjikanya. Mendengar hal itu Tante Rani tersenyum dan memberikan kecupan yang mesra kepada Nanang sambil meraba batang kemaluan Nanang yang sudah tidak kuat untuk berdiri.

Melihat batang kemaluan Nanang yang sudah tidak kuat berdiri itu Tante Rani tersenyum. “Pasti adikku dibuatnya KO sama kamu yaa… Buktinya burung kamu tidak mau berdiri,” goda Tante Rani. “Ahh nggak Tante, biasa saja kok.”

Tante Rani meninggalkan Nanang, sambil mewanti-wanti agar menikahi adiknya. Akhirnya pernikahan Diah dengan Nanang dilakukan dengan pernikahan dibawah tangan atau pernikahan secara agama tetapi dengan tanpa melalui KUA karena Diah masih dibawah umur.

Tamat

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*