Cerita Sex Antara Enak dan Benci 2st | Hasrat Sex
Obat Pembesar Penis VIMAX

Cerita Sex Antara Enak dan Benci 2st

Alt/Text Gambar Alt/Text Gambar

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Antara Enak dan Benci 2st. Meneruskan Bagian ke dua.
Suasana di luar pun sudah berubah. Hujan yang tadi hanya rintik-rintik saja kini sudah mulai membesar sehingga membuat kabut di seluruh kaca mobil dimana kedua insan ini berada. Suasana yang sangat mendukung ini membuat mereka bertambah panas. Mereka tidak hanya berciuman saja. Mereka sudah saling meraba, mengelus dan berbuat apa saja yang mengakibatkan gairah mereka semakin membara.

Cerita Dewasa Antara Enak dan Benci 2st

cerita sex perselingkuhan, cerita perselingkuhan terbaru, cerita perselingkuhan ibu rumah tangga, cerita cerita perselingkuhan, cerita perselingkuhan ibu, cerita perselingkuhan di kantor, cerita ngesek perselingkuhan, cerita perselingkuhan wanita, cerita perselingkuhan istriku, cerita perselingkuhan bergambar, cerita mesum perselingkuhan, cerita perselingkuhan dengan tetangga, perselingkuhan cerita, cerita perselingkuhan sampai hamil, cerita perselingkuhan tetangga, cerita hubungan perselingkuhan, cerita perselingkuhan terpanas, cerita birahi perselingkuhan, cerita bokep perselingkuhan
Cerita Mesum Antara Enak dan Benci 2st

Shinta yang kesehariannya selalu berwibawa, anggun dan lembut tutur sapanya, kini berubah seperti singa betina liar yang kehausan di tengah padang pasir kering.

“Ooohhh… ookkkhhhh, Don…,” desahnya semakin menggairahkan. Dipeluknya tubuh Deni dengan erat seolah khawatir lepas darinya.

Deni tak menyahut. Ia balas memeluk dan tangannya mulai mencari-cari ke sekujur tubuh wanita cantik ini. Tangannya lalu menelusup lewat bagian bawah tank-topnya, merayap ke atas perut lalu merambah ke payudaranya yang tak memakai bra. Jemarinya menjelajah ke seluruh permukaan halus kulit buah dadanya yang terasa semakin membusung saja sesaat setelah terkena sentuhannya.

Shinta mendesah, kepalanya melengak ke belakang sehingga dadanya membusung ke arah wajah Deni. Disodorkan seperti itu, Deni tak tinggal diam. Disingkapnya tank-top itu sehingga dadanya terbuka lebar.

Deni mendecak kagum menyaksikan kedua bukit kembar itu membusung penuh, kedua putingnya nampak sudah mengeras dan mencuat ke atas. Pemandangan ini sungguh sangat menggairahkan sekali dan amat mengundang.

Setelah puas memandangi keindahannya, Deni segera membungkuk agar bibirnya dapat menciumi buah dada itu. Desahan Shinta semakin menjadi-jadi, kepalanya semakin melengak ke belakang seakan memberikan keleluasan pada Deni untuk menikmati semua miliknya itu.

“Auuuhhhh…., teruuuussss, yaaa iseeeeppphhfff…” ucapan Shinta semakin tak karuan merasakan kenikmatan ini, apalagi saat Deni menghisap putingnya sementara tangan kanannya meremas-remas dengan lembut buah dada yang satunya lagi.

Dalam keadaan seperti ini mana mungkin Deni menghentikan perbuatannya meski dalam keadaan sadar sekalipun. Apalagi alkohol dari minuman di bar tadi masih mempengaruhi dirinya. Ia pun lepas kendali, tanpa memikirkan siapa dirinya, siapa wanita yang tengah dicumbunya dan siapa pula suami wanita itu, Deni terus menggerayang ke bagian-bagian paling sensitif milik wanita ini.

Akibatnya sungguh luar biasa, Shinta semakin liar saja. Tubuhnya meliuk-liuk seolah ingin agar tak pernah luput dari setiap sentuhan Deni. Suasana di dalam mobil yang serba terbatas itu semakin panas kala tangan kiri Deni mulai menelusup di balik roknya dan merayap perlahan di atas pahanya.

Nafas Shinta semakin memburu seiring dengan semakin mendekatnya elusan jemari Deni ke pangkal pahanya. Ia justru sudah merasakan bagian itu basah. Shinta membuka kedua kakinya agar tangan Deni dapat dengan leluasa menyelinap ke dalam CD-nya.

“Ouugghhhfff…” jerit Shinta melengking saking nikmatnya saat jari Deni menyentuh bagian yang sudah lembab itu. Ia dorong tangan Deni masuk lebih dalam.

Jemari Deni mulai menyentuh-nyentuh bibir vaginanya. Terasa sudah basah. Jarinya menyeruak bulu-bulu yang terasa begitu lebat di seputar liang itu. Kemudian menyusuri belahannya, dielusnya perlahan, bergerak naik turun sambil menusuk sedikit demi sedikit.

“Oohhh Don! Enakkkhhh sekaliiiiii..!” jerit kenikmatan meluncur deras dari bibir Shinta kala ujung jempol Deni mengusap kelentitnya.

Pinggul Shinta bergoyang mengikuti irama gerakan jempol Deni yang begitu lihai. Tubuhnya meliuk-liuk menahan rasa nikmat yang sudah lama tak ia alami. Membayangkan hal itu, ia jadi teringat apa yang terlewatkan. Tangannya lalu menjulur ke bawah.

Mula-mula diletakan di atas paha Deni, lalu merayap naik perlahan. Tangan Shinta berhenti di pangkal pahanya, meremas-remas sejenak untuk kemudian naik kembali.

Matanya agak mendelik begitu menyentuh bagian yang sudah mengeras di balik celana Deni. Matanya semakin berbinar membayangkan bagaimana bentuknya jika sudah telanjang nanti.

“Don!?” pekiknya setengah terperangah.

“Kenapa, Yang?” tanyanya heran.

“Nggak.. akh…, bukain ya?” tanyanya kemudian.

Sebenarnya ia tak perlu minta izin dahulu dalam keadaan begitu sudah pasti Deni sama sekali tak keberatan. Dan memang tanpa menunggu jawaban, jemarinya yang lentik itu menarik ritsluiting celana Deni kemudian merogoh ke dalam. “Ehhmmm…,” lenguhnya.

Nampaknya ia begitu senang mendapatkan apa yang selama ini ia cari-cari. Begitu keras! Jemarinya kemudian membelai-belai sepanjang batang yang masih terhalang celana dalamnya. Belaiannya berubah menjadi remasan.

Dari bibir Shinta keluar desis-desis penuh kenikmatan seiring dengan gerakan jari Deni yang mulai menusuk ke dalam liang memeknya. Kenikmatan yang ia rasakan semakin lengkap karena sejak dari tadi mulut Deni tak pernah berhenti mengemot puting susunya.

Shinta tak mau dibilang egois karena hanya mementingkan kenikmatan sendiri. Ia lalu mengais celana dalam Deni dan meraih batang kemaluannya yang besar itu ke dalam genggamannya. Meski ia tidak bisa melihat ke bawah, tapi ia bisa merasakan betapa besar dan panjang batang milik Deni itu. Dengan lembut ia mulai mengocok batang itu.

Giliran Deni yang kini menggelinjang merasakan remasan dan kocokan tangan lembut milik wanita cantik itu. Ia sangat lihai melakukannya, apalagi saat telunjuknya mengusap-usap moncongnya. Terasa ngilu saking enaknya.

Deni tak mau kalah, gerakan jemari di dalam liang memek Shinta semakin menggila, menerobos ke seluruh relung-relung kewanitaannya. Merambah ke bagian-bagian yang menggerinjal. Terdengar nafas Shinta mulai megap-megap menghadapi semua itu.

Rasanya tak akan bertahan lama lagi karena bagian yang tak pernah tersentuh pun, kali ini tak terlewatkan oleh serangan jemari Deni. Pinggul Shinta bergoyang liar, meliuk-liuk mengimbangi gerakan jemari Deni.

Sementara itu, tangan Shinta pun tak tinggal diam. Tangannya terus mengocok dengan gerakan yang semakin lama semakin cepat. Mereka rupanya tengah berlomba untuk memberikan yang terbaik. Tubuh mereka bergoyang-goyang liar sehingga membuat mobilnya pun ikut-ikutan goyang.

Untunglah hujan cukup deras mengguyur bumi sehingga menghalangi pemandangan apa yang tengah terjadi di dalam mobil. Bahkan pekikan kenikmatan yang meluncur dari mulut Shinta yang cukup kencang itu pun sama sekali tidak sampai terdengar keluar.

Tak berapa lama kemudian Shinta mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga jari Deni melesak jauh ke dalam, kedua kakinya dikempitkan sehingga menjepit tangan Deni diam tak bergerak jauh di dalamnya. Diiringi jeritan kecil panjang, tubuhnya bergetar keras ketika ia mencapai titik puncak kenikmatannya.

“Oouugghhff……….! Dooonnnn, enaaaaakkkkk!”

Sreeeeeetttttt….., sreeet…, ssrrreeeettttttt!!!!!

Shinta merasakan air maninya menyembur berkali-kali untuk yang pertama kalinya sejak suaminya tak memiliki gairah lagi. Luar biasa sekali ekspresi wanita cantik ini. Begitu menggairahkan, begitu dahsyat.

Rupanya luapan kenikmatan Shinta berpengaruh banyak pada diri Deni. Ia merasakan batangnya terasa kelu. Tubuhnya bergejolak hebat. Pantatnya bergerak naik turun mengimbangi kocokan tangan Shinta pada batangnya dan… akh….., akh, akh…..

Creeeeeettttt! Creeetttt!!! Creeeetttt!

Deni mengeluarkan suara geraman berat begitu dari kemaluannya menyemburkan cairan kental berkali-kali. Shinta terus mengocoknya tak henti-henti seakan ingin menguras seluruh isinya. Ia coba melirik ke bawah karena ingin melihat pemandangan saat lelaki mencapai orgasmenya, tapi sayang hanya kegelapan yang ia lihat selain merasakan cairan kental dan hangat membasahi seluruh telapak tangannya.

Mereka terkulai lemas dengan nafas tersengal-sengal. Meski hanya permainan tangan, tetapi rupanya cukup menguras tenaga dan pikiran mereka berdua.

Samar-samar dalam kegelapan itu, nampak tersungging senyum kepuasan dari bibir Shinta. Ia lalu mengelus kepala Deni yang terkulai lemas di atas dadanya. Ia berbisik bahagia, “Enak sekali, Don.”

Kira-kira lima menit mereka beristirahat tanpa bergerak dan mengeluarkan sepatah kata pun. Deni mengangkat kepala dan melirik ke arah Shinta sambil tersenyum hangat. Shinta balas tersenyum. Mesra sekali senyuman itu diikuti oleh sebuah kecupan lembut pada bibir Deni.

Mereka kembali ke posisi duduk semula. Shinta merapikan kembali pakaiannya yang tak karuan diikuti oleh pandangan mata Deni yang tekagum-kagum dan pada saat ia akan menaikkan celana dalamnya, tiba-tiba Deni menahan lengannya. Shinta melirik dengan pandangan penuh tanda tanya.

Belum sempat ia bertanya, kepala Deni langsung menunduk ke arah selangkangannya dan mencium kemaluannya.

Darahnya kembali berdesir merasakan hembusan nafas hangat di sekitar kemaluannya. Shinta tertawa geli saat lidah Deni menyentuh bibir kemaluannya. Geli tapi enak!

“Akh…Don! Kamu nakal sekali! Bikin gemes aja!” kata Shinta terputus-putus.

Deni kembali mengangkat kepalanya sambil ikut-ikutan tertawa.

“Idih kok malah ketawa?” seru Shinta semakin gemes. “Awas ya!”

Shinta mendorong tubuh Deni hingga kembali duduk dan menggelitik pinggangnya. Deni tertawa kegelian dan meminta supaya menghentikannya. Shinta berhenti menggelitik, matanya melirik ke arah celana Deni yang masih terbuka dan menemukan batangnya yang terkulai lemas sementara di sekitarnya nampak cairan-cairannya yang sudah agak mengering mengotori celananya.

“Aduuhhh, jadi belepotan begini sich,” kata Shinta seraya buru-buru mengambil tissue basah di atas dashboard mobil dan mengelapnya dengan hati-hati.

Terkena sentuhan tangan lembut itu, tanpa bisa dicegah, batang Deni mulai memperlihatkan kehidupannya kembali. Sedikit demi sedikit seiring dengan usapan lembut Shinta, batang itu semakin membesar dan mengeras bagaikan besi.

Mata Shinta tak pernah mengedip mengikuti perkembangan itu. Ia terkagum-kagum menyaksikan kemaluan Deni sudah ngaceng kembali dan siap action!

“Cepet banget,” ucapnya perlahan penuh kekaguman akan kejantanan teman sekantornya ini.

“Kepengen lagi ya?”

“He-eh,” jawabnya pendek.

“Gimana kalau kita cari tempat yang lebih nyaman,” saran Deni coba-coba karena mengingat jam sudah menunjukan hampir tengah malam.

“Kamu sendiri gimana? Nggak dicariin?” Shinta balik tanya.

“Aku nggak apa-apa. Lagi bujangan… he.. he.. he,” jawabnya sambil tertawa.

“Curang…,” sergahnya pura-pura cemberut padahal ia juga kepengen banget meneruskan acara yang tentunya akan jauh lebih hot. Tapi sebagai wanita ia jaga gengsi juga jangan sampai kelihatan kegatelan banget.

Shinta pura-pura berpikir sejenak,

“Gimana ya, ini kan udah malem,” katanya sambil menunggu agar Deni terus mendesaknya.

“Nggak apa-apa. Lagian kamu juga lagi bebas kan?” seolah mengerti apa yang ada dalam benak wanita ini, Deni berlagak memintanya terus.

“Oke dech,” jawabnya dengan suara yang amat perlahan.

“Nah gitu dong. Itu baru namanya cewek gua yang cantik,” kata Deni dengan gembira.

Mendengar itu Shinta kembali berpura-pura marah sambil memelototkan matanya. Melihat ekspresi wajah Shinta, gairah Deni seakan mendesak kembali. Lalu dengan cepat diciumnya bibir yang sensual itu dengan penuh gairah.

“Ehmm…. mmmpphhhff…, cepetan dong!”

“Oke sayang. Oke!” Deni buru-buru melepaskan ciumannya dan bergegas keluar dari mobil untuk segera naik ke mobilnya yang diparkir di sampingnya.

Singkat cerita mereka sudah memesan sebuah cottage tak jauh dari tempat itu. Keduanya buru-buru masuk ke dalam untuk segera memulai kembali acara yang tertunda. Baru saja Shinta menyalakan saklar lampu, Deni sudah memeluknya dari belakang dan menciumi tengkuknya dengan penuh gairah.

Shinta melenguh merasakan ciuman hangat yang langsung membangkitkan gairahnya. Kepalanya melengak kebelakang sehingga memperlihatkan kulit lehernya yang halus dan harum. Deni tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mencumbui daerah yang cukup sensitif bagi wanita.

Tangannya pun ikut-ikutan beraksi menyusup ke balik pakaian Shinta, mengelus-elus permukaan perutnya yang rata untuk kemudian merayap, menggerayangi buah dadanya yang begitu kenyal padat berisi.

Cumbuan Deni yang begitu lihai membuat lututnya bergetar sehingga tak tahan untuk berdiri lama. Ia lalu berbalik dan menarik kursi yang berada di sampingnya untuk duduk. Cumbuan Deni tak pernah terlepas dan terus mengikuti kemana gerakan Shinta.

Begitu sudah duduk, Deni langsung melucuti pakaian atas Shinta hingga telanjang. Matanya langsung berbinar penuh kagum menyaksikan kedua bukit kembar milik wanita itu nampak menggantung indah dan membusung penuh di dadanya.

Dengan rakus, Deni melahap satu per satu daging kenyal itu. Lidahnya menjilat-jilat di seputar putingnya, sesekali menghisap dan mengemot benda kecil kemerahan yang semakin mencuat itu. Serangan Deni memang begitu gencar, tangannya beraksi kembali menarik rok dan sekaligus celana dalamnya sehingga kali ini Shinta benar-benar telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mulusnya.

Mulut Deni merayap ke bawah menyusuri permukaan perutnya untuk kemudian langsung terbenam di antara kedua pangkal paha Shinta. Lagi-lagi Shinta menjerit kecil kala ujung lidah Deni menyentuh labia vaginanya. Tubuh Shinta bergetar bagaikan terkena stroom tekanan tinggi.

Sambil berpegang pada pinggiran kursi, ia menaikan kedua kakinya ke atas sehingga bagian selangkangannya terbuka lebar-lebar. Deni segera menyerbu belahan daging berwarna kemerahan yang sembunyi di antara bulu-bulu lebat di seputarnya. Jemarinya kembali mengorek-ngorek bagian itu, sementara lidahnya terus menjilat-jilat.

“Ouh…., ooooouuuhhhhh…. Dooooonn…” Shinta mengerang-erang keenakan. Kedua tangannya segera mencekal kepala Deni dan membenamkannya dalam-dalam.

Lidah Deni bergerak lincah mempermainkan kelentit yang menyembul di antara belahannya. Benda kecil yang sangat sensitif itu sudah keras sekali. Akibatnya Shinta megap-megap seperti kehabisan nafas menahan nikmat yang tak terhingga.

Suasana yang jauh lebih nyaman dan aman serta gairah yang telah lama terpendam membuat ia tak bisa bertahan lama menikmatinya karena beberapa detik kemudian tubuhnya berguncang keras, menggelapar-gelepar bagaikan ikan kehabisan air. Diiringi lengkingan panjang, Shinta melepaskan tekanan yang mendesak dari dalam dirinya.

“Aaaaaakkkkkhhhhh!!!!” jeritnya penuh kenikmatan.

Shinta kemudian meraih kepala Deni dan menciumi wajahnya dengan penuh kemesraan seolah ingin menyatakan ucapan terima kasih atas kenikmatan yang baru ia berikan. Ciumannya semakin memanas dan liar.

Didorongnya tubuh Deni ke arah ranjang hingga jatuh terlentang di sana. Ia langsung menindihnya dari atas sambil menciumi sekujur tubuhnya sementara jemarinya dengan cekatan mempreteli seluruh kancing bajunya dan melepaskannya.

Lalu membuka ikat pinggangnya. Tanpa memperdulikan Deni yang mungkin agak terkejut dengan perangainya, Shinta langsung memelorotkan seluruh celana Deni.

“Oooww!!!” pekiknya tertahan menyaksikan batang milik Deni yang sudah mengacung keras seperti tiang pancang itu.

Ia tak pernah mengira bahwa batang milik teman sekantornya ini jauh lebih besar, panjang dan amat keras seperti perkiraannya sewaktu memegangnya dalam kegelapan di mobil tadi. Ingin rasanya ia berteriak kegirangan mendapatkan sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Gede banget!” bisik Shinta seraya meraba-rabanya seperti anak kecil yang baru diberi mainan.

Ia kemudian merayap di atas tubuh Deni, turun ke arah selangkangannya. Kini wajahnya persis berada di depan batang yang mengacung itu. Dipandanginya sekujur batang itu dan setelah puas baru ia menjulurkan lidahnya ke atas moncong batang itu.

“Errrggghhhh….,” Deni mengerang keenakan saat merasakan lidahnya yang hangat. Ia melirik sejenak untuk melihat ke bawah.

Shinta pun melirik ke atas. Pandangannya bertemu. Deni menganggukkan kepalanya. Entah apa maksudnya. Seolah mengerti, Shinta membuka mulutnya dan perlahan-lahan memasukan batang itu. Kedua bibirnya dirapatkan dan mulai mengulumnya. Lidahnya bermain-main di sekujur batang itu sambil mengemot-emot.

“Auuuukkkhhhh….,” kembali Deni mengerang.

Kepala Shinta bergerak naik turun. Dari mulutnya terdengar suara keciprakan selomotannya. Sungguh mendebarkan sekali mendengar suara-suara itu. Shinta tak henti-hentinya mengulum, mengemot dan menghisap-hisap seolah ingin membalas kenikmatan yang dirasakannya tadi.

Akibatnya Deni berkelejotan menahan kenikmatan luar biasa ini. Ia merasa tak akan bertahan lama. Deni nampaknya tak ingin keluar sebelum keinginannya tercapai. Ia lalu menahan gerakan Shinta dan mengisyaratkan padanya untuk naik.

Shinta mengerti apa maksudnya, ia lalu berjongkok mengangkangi tubuh Deni sehingga selangkangannya persis berada di atas batang yang berdiri tegak itu. Tubuhnya kemudian turun perlahan-lahan. Batang Deni yang sudah ia selipkan di antara belahan memeknya mulai melesak masuk. Dengan mata terpejam Shinta meneruskan pinggulnya semakin turun sampai akhirnya batang Deni amblas seluruhnya.

Bleeeesssshhhhhhh!!!

“Aaaakkkhhhhhh!!!!” Shinta menghembus nafas lega saat berhasil memasukan seluruhnya padahal tadi sempat ngeri kalau terjadi apa-apa dengan miliknya karena begitu seret sekali masuknya.

Ia berhenti sejenak sambil menarik nafas, lalu mulai bergoyang sambil mengangkang di atas tubuh Deni. Kedua tangannya bertumpu di atas dada Deni, pantatnya menggeol-geol sambil bergerak naik turun dengan irama yang teratur. Tubuhnya nampak bergerak seolah sedang menunggang kuda dan memacunya dengan penuh gairah.

Di bawah sana, Deni tak tinggal diam. Pinggulnya turut bergerak naik turun, bergoyang kiri kanan mengimbangi irama gerakan wanita yang menungganginya. Keadaan semakin bertambah panas, mereka sama-sama berpacu saling berlomba menuju puncak pendakian.

Seiring dengan meningkatnya kecepatan, Shinta membungkukan tubuhnya hingga sejajar dengan tubuh Deni sementara pantatnya menungging ke belakang bak seorang joki yang tengah memacu secepat mungkin saat mendekati garis finish.

Demikian pula dengan Deni, kedua tangannya merangkul erat tubuh sintal wanita itu yang nampaknya hampir mencapai puncak pendakiannya. Tubuhnya semakin berguncang, berkelojotan seperti ayam disembelih. Pantatnya bergerak cepat naik…, turun…., naik…, turuuuunnnn…., dan akhirnya ditekannya kuat-kuat. Dari mulutnya meluncur desisan panjang dan lenguhan keras mirip sapi sedang birahi.

Seeeeeerrrrrrrrrr!!!!! Shinta merasakan air maninya menyembur kencang dan banyak sekali menyirami batang kemaluan Deni yang nampak masih bergerak keluar masuk.

“Auuuugghhh….. Dooon!!! Cepet keluaaarinhhhh…., udah nghhhiillluuuuuu……., ooookkkhhhhh!!” kepala Shinta menggeleng-geleng saking gelinya merasakan tusukan demi tusukan batang keras di dalam kemalauannya.

“Oughh…, ouuuggghhh…., AAAAKKKKHH!!!!!” Deni mengerang-erang merasakan nikmatnya orgasme berkali-kali.

Mereka bergulingan di ranjang sambil berpelukan erat menikmati puncak dari segala kenikmatan permainan cinta ini.

“Fhhhuuiiiihhh!!!” Deni merasakan kelegaan. Lepas sudah ketegangan di sekujur tubuhnya.

“Wow!” pekik Shinta puas. Permainan kedua yang cukup menyita tenaga ini sungguh sangat mengasyikan sekali.

Dari raut wajahnya nampak sekali ia begitu menikmatinya dan benar-benar memuaskan. Shinta memeluk Deni begitu mesra seakan tak ingin melepaskan untuk selamanya.

Mereka berdua seolah tak ingat akan waktu yang telah melewati tengah malam, atau keluarga mereka yang mungkin mengira mereka sudah ada di rumahnya masing-masing. Apa jadinya kalau perselingkuhan itu tercium oleh keluarga mereka.

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*